BORNEONEWS, Tamiang Layang – Vegetasi kering mempercepat penjalaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan konservasi kawasan Divisi 3, Desa Murutuwu, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur.
Kondisi semak belukar, pepohonan kayu dan pohon sawit yang mengering membuat kobaran api cepat merambat sehingga tim gabungan harus bekerja hingga tengah malam.
Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur menerima informasi kebakaran dari masyarakat melalui WhatsApp.
Petugas kemudian berangkat sekitar pukul 11.20 WIB menuju lokasi yang berjarak sekitar 25 menit dari Tamiang Layang.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan kondisi vegetasi menjadi salah satu kendala utama dalam pengendalian karhutla. Material yang kering membuat api lebih mudah menjalar ke bagian lahan lainnya.
“Semak belukar yang kering mengakibatkan cepatnya perambatan atau perluasan api. Pengerjaannya pada malam hari juga kurang maksimal karena minimnya jarak pandang,” kata Parluhutan.
Kebakaran tersebut melanda lahan konservasi seluas kurang lebih 30 hektare. Api telah membakar sekitar 4 hektare area dan tim gabungan baru berhasil memadamkan sekitar 1 hektare.
Hingga operasi berakhir sekitar pukul 00.45 WIB, petugas belum berhasil memadamkan api secara keseluruhan.
TRC-PB BPBD Damkar Barito Timur mengerahkan delapan personel untuk menangani kebakaran. Petugas membawa satu mesin jinjing atau alkon, satu mobil pikap, satu tandon air berkapasitas 1.000 liter dan satu kendaraan roda dua.
Penanganan karhutla juga melibatkan PT SGM, Batalyon Yonif TP 924 Uria Mapas dan Polres Barito Timur. PT SGM mengerahkan dua tangki air berkapasitas masing-masing 3.000 liter serta dua unit jonder. Batalyon Yonif TP 924 Uria Mapas menurunkan satu unit kendaraan pemadam berkapasitas 3.000 liter.
Polres Barito Timur turut memperkuat operasi dengan satu unit tangki suplai air berkapasitas 5.000 liter dan satu kendaraan roda empat yang membawa tandon air berkapasitas 1.000 liter. Tim menggunakan galian milik PT SGM sebagai sumber air selama proses pemadaman.
Parluhutan mengatakan keterlibatan lintas instansi menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi kebakaran yang cepat berkembang.
Selain menghadapi vegetasi kering, petugas juga harus bekerja dalam kondisi gelap yang membatasi jarak pandang di sekitar titik api.
“Kami bersama unsur yang terlibat terus berupaya mengendalikan api agar tidak semakin meluas. Kondisi di lapangan memang cukup menantang karena vegetasi kering dan pemadaman berlangsung sampai malam,” ujarnya.
Meski operasi pemadaman berlangsung hingga pukul 00.45 WIB, api belum sepenuhnya padam. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di lokasi membutuhkan pemantauan dan upaya lanjutan untuk mencegah api kembali menjalar ke area lain.
Sebelum meninggalkan lokasi, seluruh unsur yang terlibat melakukan pengecekan personel untuk memastikan tidak ada anggota yang tertinggal. Setelah seluruh personel dinyatakan lengkap, tim kembali ke instansi masing-masing. (AGUSTINUS BOLE MALO/R)









