SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Belum genap sebulan Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) telah menghanguskan 1.104,64 hektare lahan. Luasan tersebut tercatat dari 274 penanganan karhutla sepanjang 1-21 Agustus 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam mengatakan, peningkatan karhutla pada Agustus terlihat signifikan dibandingkan akumulasi penanganan pada Januari hingga Juli 2026.

Berdasarkan data BPBD Kotim, Januari-Juli luasan lahan terbakar 307,5 hektare dari total 146 penanganan dan total hotspot 517 titik.

Sementara itu, memasuki Agustus, luasan lahan yang terbakar bertambah 1.104,64 hektare. Penanganan dilakukan pada 274 kejadian dengan jumlah hotspot mencapai 6.276 titik.

"Jadi Januari hingga 21 Agustus 2026, total luasan lahan terbakar mencapai 1.412,14 hektare dari 420 penanganan. Sementara total hotspot tercatat 6.793 titik," kata Multazam.

Data tersebut menunjukkan Agustus menjadi periode dengan peningkatan karhutla paling signifikan sepanjang 2026.

BPBD Kotim merincikan periode Januari hingga 21 Agustus 2026, Kecamatan Seranau mencatat luasan lahan terbakar terbesar dibandingkan kecamatan lainnya.

Di Kecamatan Seranau, terdapat empat kali penanganan karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 703,5 hektare. Luasan tersebut mencapai 49,82 persen dari total luas lahan terbakar yang tercatat.

Jumlah hotspot di Kecamatan Seranau mencapai 395 titik. Rinciannya satu titik pada Januari, tidak terdapat hotspot pada Februari hingga Juni, satu titik pada Juli, serta 393 titik pada Agustus.

Kecamatan Mentawa Baru Ketapang juga mencatat angka penanganan yang tinggi. Sebanyak 180 kejadian ditangani dengan luas lahan terbakar mencapai 250,2065 hektare atau 17,72 persen dari total keseluruhan.

Untuk hotspot, Mentawa Baru Ketapang mencatat 698 titik sepanjang 2026. Rinciannya empat titik pada Januari, nol titik pada Februari, 4 titik pada Maret, 1 titik pada April, 0 titik pada Mei, tidak ada pada Juni, 47 titik pada Juli, dan 642 titik pada Agustus.

Kecamatan Baamang tercatat 171 kejadian karhutla tertangani dengan luas lahan terbakar mencapai 139,66135 hektare atau 9,89 persen.

Adapun hotspot di wilayah tersebut mencapai 725 titik. Rinciannya tidak terdapat hotspot pada Januari hingga Mei, empat titik pada Juni, 15 titik pada Juli, dan 706 titik pada Agustus.

Di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, terdapat 16 penanganan dengan luas lahan terbakar 83,208 hektare atau 5,89 persen. Wilayah ini mencatat 643 hotspot, terdiri dari empat titik pada Januari, tidak ada pada Februari, 4 titik pada Maret, nol titik pada April, satu titik pada Mei, nol titik pada Juni, 41 titik pada Juli, serta 593 titik pada Agustus.

Kecamatan Pulau Hanaut mencatat empat kali penanganan dengan luas lahan terbakar 82,65 hektare atau 5,85 persen. Hotspot di wilayah ini mencapai 51 titik, terdiri dari satu titik pada Januari dan 50 titik pada Agustus, sedangkan Februari hingga Juli tidak terdapat hotspot.

Kecamatan Parenggean mencatat lima kali penanganan karhutla dengan luas lahan terbakar 58,5 hektare atau 4,14 persen. Hotspot yang terpantau mencapai 97 titik, terdiri dari satu titik pada Januari, tidak ada hotspot pada Februari hingga Juni, 15 titik pada Juli, dan 82 titik pada Agustus.

Sementara Kecamatan Kota Besi mencatat 14 kali penanganan dengan luas lahan terbakar 33,615 hektare atau 2,38 persen. Jumlah hotspot mencapai 678 titik, dengan rincian enam titik pada Januari, tidak ada pada Februari dan Maret, satu titik pada April, tidak ada pada Mei dan Juni, 67 titik pada Juli, serta 604 titik pada Agustus.

Di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, BPBD mencatat enam kali penanganan dengan luas lahan terbakar 30 hektare atau 2,12 persen. Hotspot mencapai 1.485 titik. Dari jumlah tersebut, 1.484 titik tercatat pada Agustus dan satu titik pada Maret.

Kecamatan Telawang mencatat 13 kali penanganan dengan luas lahan terbakar 13,05 hektare atau 0,92 persen. Hotspot yang tercatat sebanyak 189 titik, terdiri dari lima titik pada Januari, tidak ada pada Februari hingga Maret, dua titik pada April, nol titik pada Mei, satu titik pada Juni, 16 titik pada Juli, dan 165 titik pada Agustus.

Kecamatan Teluk Sampit mencatat empat kali penanganan dengan luas lahan terbakar 13,3 hektare atau 0,94 persen. Rekapitulasi hotspot mencatat 1.156 titik, dengan rincian delapan titik pada Januari, tidak ada pada Februari hingga April, tidak ada pada Mei dan Juni tiga titik, Juli delapan titik dan Agustus 1.157 titik.

Kecamatan Cempaga mencatat satu kali penanganan dengan luas lahan terbakar 1 hektare atau 0,07 persen. Hotspot di wilayah ini mencapai 84 titik, terdiri dari 12 titik pada Januari, tidak ada pada Februari hingga April, dua titik pada Mei, satu titik pada Juni, tujuh titik pada Juli, dan 62 titik pada Agustus.

Kecamatan Cempaga Hulu juga mencatat satu kali penanganan dengan luas lahan terbakar 2 hektare atau 0,14 persen. Jumlah hotspot mencapai 71 titik, terdiri dari satu titik pada Januari, tidak ada pada Februari hingga April, empat titik pada Mei, tidak ada pada Juni, lima titik pada Juli, dan 61 titik pada Agustus.

Kecamatan Mentaya Hulu mencatat satu kali penanganan dengan luas lahan terbakar 1,45 hektare atau 0,10 persen. Hotspot mencapai 110 titik, terdiri dari 18 titik pada Januari, tidak ada pada Februari, enam titik pada Maret, dua titik pada April, tidak ada pada Mei, empat titik pada Juni, enam titik pada Juli, dan 74 titik pada Agustus.

Sementara itu, tiga kecamatan tercatat belum memiliki penanganan kejadian karhutla hingga 21 Agustus 2026, yakni Antang Kalang, Telaga Antang dan Bukit Santuai.

Kecamatan Antang Kalang tercatat nol penanganan dengan luasan lahan terbakar 0 hektare. Meski demikian, hotspot mencapai 150 titik, terdiri dari 42 titik pada Januari, satu titik pada Februari, empat titik pada Maret, delapan titik pada April, satu titik pada Mei, tujuh titik pada Juni, 24 titik pada Juli, dan 63 titik pada Agustus.

Kecamatan Telaga Antang juga belum mencatat penanganan karhutla dengan luasan lahan terbakar 0 hektare. Hotspot mencapai 74 titik, terdiri dari 10 titik pada Januari, satu titik pada Februari, delapan titik pada Maret, dua titik pada April, satu titik pada Mei, dua titik pada Juni, 30 titik pada Juli, dan 20 titik pada Agustus.

Begitu pula Kecamatan Bukit Santuai yang belum mencatat penanganan karhutla dan luas lahan terbakar 0 hektare. Namun, wilayah tersebut mencatat 149 hotspot, yakni enam titik pada Januari, tidak ada pada Februari, 12 titik pada Maret, dua titik pada April, tidak ada pada Mei, empat titik pada Juni, empat titik pada Juli, dan 121 titik pada Agustus.

Kecamatan Tualan Hulu juga tercatat belum memiliki penanganan karhutla dengan luas lahan terbakar 0 hektare. Hotspot di wilayah tersebut mencapai 38 titik, terdiri dari tiga titik pada Januari, tidak ada pada Februari dan Maret, empat titik pada April, tidak ada pada Mei, delapan titik pada Juni, empat titik pada Juli, dan 19 titik pada Agustus.

Data BPBD Kotim tersebut menunjukkan lonjakan karhutla pada Agustus terjadi hampir di seluruh wilayah yang mengalami penanganan. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan tingginya aktivitas hotspot selama musim kemarau 2026. (DEWI PATMALASARI/j)