SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin meluas. Tak hanya mengganggu kesehatan masyarakat dan aktivitas pendidikan, kabut asap kini mulai berdampak terhadap transportasi udara.

Salah satunya terjadi pada penerbangan Super Air Jet rute Jakarta-Sampit, Sabtu, 22 Agustus 2026. Pesawat tersebut dilaporkan gagal mendarat di Bandara Haji Asan Sampit akibat kondisi kabut asap yang mengganggu jarak pandang.

Salah seorang penumpang, Yulia Kartika Sari, mengatakan pesawat yang ditumpanginya berangkat dari Jakarta sekitar pukul 13.35 WIB dan dijadwalkan tiba di Sampit sekitar pukul 15.15 WIB.

“Penerbangan dari Jakarta pukul 13.35 WIB dan tiba sekitar pukul 15.15 WIB, karena waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Namun, setibanya di wilayah Sampit, pesawat tidak dapat melakukan pendaratan karena kondisi kabut asap. Upaya pendaratan bahkan telah dilakukan sebanyak dua kali, tetapi tetap tidak berhasil.

“Karena kabut asap pesawat yang kami tumpangi tidak dapat mendarat. Sudah mencoba dua kali untuk mendarat, tetapi tetap gagal,” ungkapnya.

Yulia mengatakan, setelah upaya pendaratan tidak berhasil, pesawat akhirnya kembali menuju Jakarta. Para penumpang kini masih menunggu informasi terkait penerbangan berikutnya menuju Sampit.

“Jadi sekarang kami balik lagi ke Jakarta, menunggu info keberangkatan lagi ke Sampit. Semoga penerbangan selanjutnya lancar dan bisa mendarat dengan baik,” harapnya.

Gangguan penerbangan ini menambah daftar dampak karhutla di Kotim. Sebelumnya, kabut asap juga mulai dirasakan dalam aktivitas masyarakat, termasuk bidang kesehatan dan pendidikan.

Dari sisi kesehatan, selain kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), keluhan iritasi tenggorokan juga mulai meningkat. Berdasarkan data yang disampaikan sebelumnya, tercatat 18 kasus iritasi tenggorokan hingga 18 Agustus 2026.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama ketika kualitas udara memburuk.

Di sektor pendidikan, Pemerintah Kabupaten Kotim juga mengambil langkah perlindungan terhadap peserta didik. Pemkab menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan mengalihkan kegiatan belajar menjadi Belajar dari Rumah (BDR) selama kondisi kabut asap akibat karhutla masih membahayakan. Kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Bupati Kotim Nomor 400.3.1/1182/DISDIK-1/2026.

Dinas Pendidikan Kotim sebelumnya juga telah menerapkan sejumlah penyesuaian pembelajaran selama musim kemarau dan meningkatnya potensi kabut asap. Sekolah dapat menerapkan pembelajaran jarak jauh atau BDR secara situasional dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara.

Dengan kondisi tersebut, karhutla di Kotim kini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Dampaknya mulai merambah berbagai sektor, mulai dari kesehatan masyarakat, pendidikan hingga konektivitas udara yang menjadi salah satu akses penting bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah. (DEVIANA/j)