TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Simpang Bangkuang, Kecamatan Paku, Kabupaten Barito Timur, Sabtu, 22 Agustus 2026, menghadapi kendala serius berupa keterbatasan sumber air. Tim gabungan harus berulang kali memobilisasi peralatan dan air untuk mengendalikan api di lahan semak belukar dengan kondisi tanah semi gambut.

Pemadaman dilakukan Posko 1 MPA Pengembara bersama Regu Dalkar KSL dan masyarakat setelah menerima laporan dari Kepala Desa Simpang Bangkuang. Personel tiba di lokasi dan mulai melakukan penanganan sekitar pukul 10.10 WIB hingga pukul 16.46 WIB.

Kebakaran diperkirakan melanda sekitar 2 hektare lahan yang berada di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL). Dari luasan tersebut, tim berhasil memadamkan sekitar 1 hektare. Kondisi terakhir di area yang ditangani dilaporkan sudah padam.

Kasie Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat KPHP Barito Hilir, Deddy Prayitno, mengatakan karakter lahan menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman. Vegetasi berupa semak belukar dan tanah semi gambut memungkinkan api merambat tidak hanya di permukaan tetapi juga melalui bagian bawah lahan.

“Tim langsung bergerak setelah menerima laporan dari Kepala Desa Simpang Bangkuang. Personel melakukan pemadaman sekaligus membuat pembatas untuk menghentikan jalur api agar kebakaran tidak meluas,” katanya.

Untuk menangani kebakaran, tim mengerahkan satu regu MPA Pengembara, satu regu Dalkar KSL dan masyarakat. Peralatan yang digunakan terdiri dari satu mobil operasional, dua mesin pemadam portabel, 17 rol selang, satu nozzle serta dua unit handy talky untuk mendukung komunikasi dan koordinasi di lapangan.

Dua tangki jonder milik PT KSL turut digunakan untuk mendukung suplai air. Sementara sumber air utama berasal dari parit yang berjarak sekitar 200 meter dari titik api.

Jarak sumber air tersebut membuat petugas harus melakukan mobilisasi air dan peralatan secara terus-menerus selama proses pemadaman. Kendala semakin terasa karena setelah air dari parit digunakan, tidak terdapat sumber air tambahan di sekitar lokasi.

Deddy menjelaskan, kebakaran memiliki tipe api atas dan bawah sehingga pemadaman harus dilakukan secara menyeluruh. Penanganan tidak hanya diarahkan pada kobaran api yang terlihat di permukaan tetapi juga untuk memastikan bara di bagian bawah lahan tidak kembali menyala.

“Dari perkiraan luasan sekitar 2 hektare yang terbakar, tim berhasil melakukan pemadaman sekitar 1 hektare. Kondisi terakhir di lokasi dilaporkan sudah padam,” ujarnya.

Selain memadamkan api, personel juga membuat pembatas untuk menghambat jalur rambatan kebakaran. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api menjalar ke area lain yang lebih luas.

Kondisi lahan semak belukar dan tanah semi gambut menjadi perhatian karena karakter tersebut memungkinkan api bergerak melalui permukaan maupun bagian bawah tanah. Karena itu, petugas harus memastikan area yang telah ditangani tidak kembali memunculkan bara.

Setelah proses pemadaman dan pembatasan jalur api dilakukan, situasi terakhir di lokasi dilaporkan dalam kondisi padam.

Seiring meningkatnya risiko karhutla, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur Parluhutan Tampubolon mengimbau masyarakat untuk sementara tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun.

Menurutnya, penghentian aktivitas pembakaran lahan diperlukan untuk mencegah munculnya titik api baru yang dapat berkembang menjadi kebakaran lebih luas, khususnya pada lahan yang dipenuhi semak belukar dan memiliki kondisi tanah semi gambut.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap atau titik api di sekitar permukiman maupun lahan terbuka. Laporan sejak dini dinilai penting agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum api membesar dan semakin sulit dikendalikan. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)