BORNEONEWS, Sampit- Siapa sangka replika kapal tugboat yang punya nilai seni tinggi ternyata terbuat dari kayu yang tidak termanfaatkan yang sering hanyut di Sungai Mentaya?

Di tangan Arifandi (44) warga Jl Baamang I, Kecamatan Baamang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) replika tersebut dibuat persis seperti aslinya. Sudah dua tahun terakhir dia menggeluti seni membuat replika tugboat dengan memanfaatkan kayu yang didapatnya hanyut di sungai.

Kayu biasanya didapat dalam berbentuk gelondongan atau kayu bulat. Sehingga ia terlebih dulu mengolahnya menjadi bilahan-bilahan kayu masak atau siap pakai.

Awalnya, ia membuat miniatur-miniatur itu iseng saja. Karena ingin memanfaatkan sesuatu yang awalanya tidak berharga menjadi barang yang bernilai jual tinggi. “Awalnya saya melihat kayu yang masih bagus hanyut di Sungai Mentaya, sehingga timbul pemikiran memanfaatkannya menjadi barang yang berharga,” ujar Arifandi, Kamis (12/1/2017).

Sementara itu, dalam pembuatan replika tugboat tersebut, tidak hanya menggunakan bahan kayu hanyut saja, namun juga berbahan mika, kayu lapis, dan paralon. Sedangkan untuk satu tugboat dikerjakan memakan waktu sekitar satu bulan.

Untuk harga per buah reflika, bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga di atas Rp1 juta. "Tergantung dari besar kecilnya serta kerumitan dalam pembuatannya," tandas dia.

Replika itu juga tidak hanya menjadi pajangan saja, namun juga bisa berjalan layaknya mainan modern menggunakan remote kontrol.

“Mesinnya sudah dipasang tinggal alat remote kontrol saja yang harus pasang sendiri oleh pembeli,” terang Arifandi.

Saat ini ia banyak menjual replika hasil olahannya. Dia ingin miniatur yang dia buatnya bisa lebih dikenal dan diminati banyak orang. "Atau bahkan bisa menjadi salah satu seni yang menarik pemuda Kotim untuk mengikuti dan belajar membuatnya," tandas dia. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)