BORNEONEWS, Sampit - Kebakaran lahan di kawasan Baamang Barat, Sampit, Kotawaringin Timur, tidak berhenti ketika matahari mulai turun. Pemadaman justru berlanjut hingga malam.
Komandan Yonif TP 923/Mentaya Mayor Inf Hengky Saputra bersama Wakil Komandan Batalyon turun langsung ke lapangan membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Sabtu, 23 Agustus 2026.
Mereka bergabung dengan relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Baamang Barat dan Kelurahan Baamang Barat. Pemadaman dilakukan di sejumlah titik, antara lain kawasan Lingkar Utara, Jalan Moh Hatta, dan Bumi Raya, Kelurahan Baamang Barat.
Tim mulai bekerja sekitar pukul 12.00 WIB. Pekerjaan baru berakhir sekitar pukul 20.30 WIB malam.
Delapan jam berada di lapangan menunjukkan bahwa persoalan karhutla di kawasan permukiman Baamang Barat bukan perkara yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Api harus dikejar dari satu titik ke titik lain, sementara petugas memastikan kebakaran tidak merambat lebih jauh.
Komandan Yonif TP 923/Mentaya memimpin langsung proses pemadaman tersebut. Wakil komandan batalyon ikut berada di lapangan bersama Danru MPA Baamang Barat Nandi dan Lurah Baamang Barat Arya.
Kehadiran unsur TNI bersama MPA dan pemerintah kelurahan memperlihatkan pola penanganan yang mengandalkan kerja bersama di tingkat lapangan. Bukan hanya personel pemadam yang bergerak, tetapi juga unsur yang mengenal kondisi wilayah dan akses menuju lokasi kebakaran.
"Kondisi karhutla di wilayah Baamang Barat saat ini menjadi salah satu sorotan yang tertinggi diantara karhutla di wilayah Kotim. Mengingat tempatnya yang krusial dekat dengan pemukiman warga dan tentunya Bandara H Asan Sampit, bahkan api juga sudah merembet hingga ke tepi jalan raya," kata Danyonif TP 923 Mentaya Mayor Inf Hengky Saputra, Minggu, 23 Agustus 2026.
Di tengah kemarau seperti saat ini, pemadaman karhutla memang membutuhkan pekerjaan berulang. Api yang terlihat padam belum selalu berarti kawasan tersebut aman. Karena itu, pendinginan dan pemantauan setelah pemadaman menjadi bagian penting untuk mencegah api kembali menyala.
Dalam penanganan karhutla tersebut, ada 50 anggota dari Yonif TP 923 Mentaya yang diterjunkan, ditambah 8 orang dari MPA Baamang Barat.
Sedangkan untuk armada sendiri, 1 unit truk damkar Yon TP Mentaya, 1 unit kendaraan roda tiga MPA Baamang Barat, serta 1 unit mobil membawa profil tank untuk suplai air.
"Selain tergabung dalam Satgas Penanganan Karhutla dibawah BPBD Kotim ini, kami memutuskan bergerak bersama para relawan MPA Baamang Barat dengan segala keterbatasan yang ada," kata Hengky.
Ia juga menjelaskan, pemadaman yang dilakukan oleh mereka memakan waktu cukup lama, bahkan sekitar 8 jam.
Delapan jam di lapangan menunjukkan satu hal, yakni memadamkan karhutla bukan pekerjaan sekali selesai. Setelah api di satu titik berhasil dikendalikan, petugas masih harus memastikan bara tidak kembali menjalar dan menemukan lahan lain yang mudah terbakar.
"Meskipun padam, di lokasi tersebut tetap kami pantau. Karena ini berkaitan dengan lahan gambut, yang mana saat di permukaan padam, belum tentu di area bawahnya sudah padam. Oleh sebab itulah, pemantauan terus kami lakukan," terang Hengky.
Sementara, yang menjadi kendala pihaknya saat ini di lapangan adalah ketersediaan air dan juga tentunya akses menuju lokasi kebakaran yang jauh. Oleh sebab itu, pihaknya berharap ada bantuan alat yang memadai dari pihak terkait.
"Sementara yang dapat kami jangkau saat ini hanya sekitar 200 meter saja. Sedangkan lokasi karhutla masih jauh. Oleh sebab itu, kami harap kami dapat didukung dengan bantuan alat yang memadai dan ketersediaan pipa," harap Hengky.
Ia juga berterima kasih kepada MPA Baamang Barat yang telah tersentuh hatinya untuk bergerak membantu penanganan karhutla di Kotim ini.
"Kami sangat tersentuh dengan upaya MPA Baamang Barat yang bekerja tulus ikhlas tanpa pamrih," sebut Hengky.
Sedangkan Lurah Baamang Barat Arya mengatakan, saat ini kebakaran di wilayahnya cukup luas, dan upaya pemadaman terus berlangsung. Bahkan upaya penindakan bagi pelaku pembakaran juga telah dilakukan.
"Di wilayah Baamang Barat ini, ada juga pemilik lahan yang diamankan oleh kepolisian, dan saat ini masih berproses," terang Arya.
Sementara Komandan Regu MPA Baamang Barat Nandi mengatakan, sudah lebih dari sepekan terakhir pihaknya terjun ke lapangan untuk melakukan pemadaman. Hal itu adalah upaya mereka dalam mengantisipasi meluasnya karhutla di wilayah Baamang Barat.
"Sudah sepekan terakhir ini kami berjibaku memadamkan karhutla, dan alhamdulillah juga dapat bantuan dan dukungan dari Yonif TP Mentaya serta Lurah Baaman Barat, dan itu sangat membantu sekali ditengah kejadian musibah karhutla ini," kata Nandi.
Ia juga menyebutkan, bagi petugas di lapangan, pekerjaan tidak berhenti ketika kobaran api menghilang. Area yang telah dipadamkan tetap perlu dipantau untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.
"Api mungkin telah mengecil. Tetapi di tengah kemarau, kewaspadaan belum boleh ikut padam," ucap Nandi. (DEWI PATMALASARI/H)









