BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menggelar berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut diisi dengan senang bersama dan sejumlah perlombaan yang melibatkan para pemuda hingga orang tua. Tak hanya memeriahkan momentum kemerdekaan, KNPI Kobar juga akan menggelar doa bersama sebagai bentuk kepedulian terhadap berbagai bencana yang tengah terjadi.
Ketua DPD KNPI Kobar, Muhammad Yasir Fajar Afrizal, mengatakan doa bersama yang akan dilaksanakan pada malam hari itu ditujukan untuk mendoakan agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan segera dapat dipadamkan. Selain itu, doa juga dipanjatkan bagi masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kami hari ini menggelar senam bersama dan perlombaan dalam rangka HUT RI ke-81. Kemudian nanti malam kami juga mengadakan doa bersama untuk mendoakan agar karhutla di Kalimantan cepat padam dan masyarakat yang terdampak bencana gempa di NTT diberikan kekuatan,” ujarnya, Minggu, 23 Agustus 2026 saat diwawancarai di Taman Kota Pangkalan Bun.
Akrab disapa Fajar, yang juga merupakan anggota DPRD Kobar perwakilan dari Partai Golkar itu berharap kondisi di berbagai daerah yang tengah menghadapi bencana segera membaik. Menurutnya, karhutla menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian dan kepedulian seluruh pihak.
Ia secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran liar. Pasalnya, kondisi kemarau panjang saat ini membuat api lebih mudah menyebar dan berpotensi meluas hingga membakar kawasan hutan maupun lahan.
“Semoga kondisi kita membaik dan tidak ada lagi pembakaran liar. Pembakaran liar ini menimbulkan banyak kerugian, apalagi ditambah dengan kemarau panjang yang membuat api semakin mudah merambat dan membakar lahan maupun hutan,” katanya.
Menurut Fajar, dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari kerusakan lingkungan dan kerugian ekonomi. Asap yang ditimbulkan juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, terutama ketika kabut asap mulai menebal.
Kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya gangguan kesehatan pada saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Karena itu, ia berharap upaya pencegahan dan penanganan karhutla terus diperkuat. Menurutnya, persoalan karhutla tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat.
Fajar berharap pemerintah tingkatkan terus memantau perkembangan kondisi karhutla di Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Kobar, agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.
“Harapan saya, pemerintah daerah sampai pemerintah pusat terus memantau kondisi kami di Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Kotawaringin Barat yang terdampak karhutla ini,” pungkasnya. (NURITA/Y)









