BORNEONEWS, Palangka Raya – Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan menegaskan, luas lahan terbakar di Kalimantan Tengah mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, khususnya saat fenomena El Nino melanda.
“Kalau dilihat dari data Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) dari beberapa tahun sebelumnya, terutama tahun yang ada El Nino, itu sangat turun sekali,” ujar Kapolda saat meninjau penanganan Karhutla di Jalan Reflisia, Kelurahan Petuk Katimpun, Palangka Raya, Minggu, 23 Agustus 2026.
Dia mengatakan, pada 2015, luas lahan yang terbakar mencapai kurang lebih 500 ribu hektare. Kemudian pada 2019 sekitar 185 ribu hektare dan pada 2023 hampir 200 ribu hektare.
“Kita bersyukur karena sampai dengan saat ini, Karhutla di Kalteng turun cukup jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya yang ada El Nino. Perlu diketahui, data kita saat ini 7.000 lebih hektare yang sudah kita coba lakukan pemadaman,” paparnya.
Kapolda melanjutkan, pada 2026 pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak jauh hari, terutama menjelang memasuki musim kemarau. Upaya pencegahan menjadi prioritas, antara lain dengan menyosialisasikan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan.
Selain itu, patroli juga terus diintensifkan, termasuk melakukan pengecekan kanal dan berbagai upaya lainnya untuk mencegah Karhutla.
Kapolda menilai, sinergi antara Polri, TNI, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta berbagai pihak lainnya dalam penanganan Karhutla berjalan cukup baik.
Kesiapan personel Polri juga terus dimatangkan, salah satunya melalui Operasi Aman Nusa II. Operasi tersebut dilakukan untuk menambah kekuatan dalam penanganan Karhutla agar lebih optimal.
Dalam penanganannya, terdapat lima wilayah yang menjadi prioritas, yakni Palangka Raya, Pulang Pisau, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, dan Kapuas.
Sementara itu, terkait peninjauannya di Petuk Katimpun, Kapolda mengatakan bahwa kehadirannya bertujuan memberikan semangat kepada personel yang bertugas, baik siang maupun malam.
“Sekaligus mencoba kendaraan ATV, apakah efektif atau tidak ketika memasuki lokasi yang sulit dijangkau kendaraan roda empat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya sebenarnya telah memiliki kendaraan roda dua yang dirancang untuk menjangkau lokasi sulit. Namun, penggunaan ATV juga diuji untuk melihat efektivitasnya di medan gambut.
“Sebenarnya kita sudah ada kendaraan roda dua yang didesain, tapi ini mencoba lebih efektif karena tumpuannya tidak terlalu berat di lahan gambut,” tuturnya. (BUDI/y)









