BORNEONEWS, Banjarmasin - Malam di tepian Kuin, Banjarmasin, Sabtu, 22 Agustus 2026, tidak berlangsung seperti malam biasa. Di sekitar kompleks Makam Sultan Suriansyah, orang-orang duduk mengitari pusaka, makanan dan perlengkapan ritual yang menjadi bagian dari Aruh Kuin Ma’atûri Dahar. Lampu-lampu menerangi kerumunan, sementara di tengahnya berdiri rangkaian hiasan janur dan pusaka yang menjadi penanda sebuah tradisi lama yang masih dirawat hingga kini.
Aruh tersebut digelar bertepatan dengan 9 Rabiul Awal 1448 Hijriah dan menjadi bagian dari kegiatan yang berlangsung di lingkungan keluarga serta kerabat sekitar makam. Tidak ada kemeriahan dalam skala besar. Justru keterbatasan undangan menjadi ciri acara ini. Kerabat zuriat, warga sekitar makam, sejarawan, budayawan dan komunitas pencinta pusaka hadir dalam suasana yang lebih menyerupai pertemuan keluarga besar daripada pertunjukan kebudayaan.
“Ini cuma acara kampung yang biasa dilaksanakan di rumah keluarga juriat kerabat sekitar makam. Jadi acara sederhana saja, tidak mengundang orang banyak,” kata Ahmad Syarif, yang dikenal sebagai Abah Sultan kepada Borneonews, Minggu, 23 Agustus 2026.
Ahmad Syarif merupakan Ketua Yayasan Restu Sultan Suriansyah yang mengelola Situs Makam Sultan Suriansyah sekaligus Ketua Museum Situs Makam Sultan Suriansyah. Menurutnya, yayasan yang dipimpinnya memiliki hubungan sebagai mitra budaya dan kekerabatan dengan Kesultanan Banjar. Dalam acara tersebut, Sultan tidak hadir secara langsung dan diwakili oleh kerabat.
Di balik kesederhanaan acara itu terdapat istilah yang menyimpan sejarah panjang: Ma’atûri Dahar. Menurut Ahmad Syarif, istilah tersebut berasal dari kata “ma’atûri” yang bermakna mengatur, menyediakan atau menyajikan, sementara “dahar” bermakna makan. Dalam penjelasannya, istilah tersebut berkembang dalam lingkungan Kerajaan Banjar dan kemudian menjadi bagian dari tradisi yang tumbuh di Kampung Kuin, kawasan yang memiliki hubungan erat dengan sejarah awal Kesultanan Banjar.
Tradisi itu, menurut penuturan Ahmad Syarif, memiliki lapisan sejarah sebelum dan sesudah Islam menjadi bagian penting dalam kehidupan Kerajaan Banjar. Pada masa lalu, Ma’atûri Dahar berkaitan dengan penyediaan makanan atau persembahan yang dalam kepercayaan masyarakat ketika itu ditujukan kepada leluhur dan makhluk lain. Namun setelah Islam berkembang sebagai agama kerajaan, bentuk dan pemaknaannya mengalami penyesuaian.
“Ma’atûri Dahar juga merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT terkait karunia iman dan Islam dari zaman pemerintahan Raja Banjar Sultan Suriansyah hingga sekarang,” ujarnya.
Perubahan makna tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi yang dilaksanakan saat ini. Menurut Ahmad Syarif, rangkaian Ma’atûri Dahar diisi dengan zikir, selawat dan doa kepada Allah SWT. Makanan yang disediakan kemudian dinikmati bersama sehingga tidak menjadi sesuatu yang terbuang. Dalam kerangka itu, tradisi lama ditempatkan kembali sebagai ruang syukur, berbagi dan mempererat hubungan antarmanusia.
“Ma’atûri Dahar juga media silaturahmi yang sakral antar sesama zuriat dan masyarakat. Mengenang jasa leluhur atau pendahulu, hingga pelestarian adat istiadat,” katanya.
Pusaka menjadi unsur lain yang membuat prosesi tersebut memiliki karakter berbeda. Keris, tombak dan benda warisan lainnya dibersihkan sebelum mengikuti rangkaian acara. Dalam penjelasan Ahmad Syarif, pusaka dimandikan dengan air kembang, dikeringkan, kemudian diberi minyak harum dan diasapi menggunakan kayu gaharu. Setelah itu dilanjutkan dengan zikir, tahlil serta doa arwah untuk mengenang leluhur yang menjadi pemilik pusaka.
Rangkaian tersebut kemudian ditutup dengan prosesi tapung tawar. Pusaka maupun orang-orang yang hadir mengikuti prosesi tersebut sebagai bagian dari simbol syukur dan doa keselamatan. Setelah rangkaian selesai, makanan yang telah disediakan disantap bersama. Di ruang sederhana itu, benda-benda lama, doa, makanan dan pertemuan keluarga bertemu dalam satu rangkaian yang sulit dipisahkan dari ingatan masyarakat Banjar.
Sejumlah tokoh dan unsur masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Kapolsek Banjar Utara, Danramil Banjar Utara, Direktur PT Bangun Banua Afrizaldi, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin Riza Fahlevi, perwakilan Sekretaris Daerah, serta Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Rusma Khazairin. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa kegiatan yang berlangsung sederhana itu juga menarik perhatian kalangan pemerintahan, kebudayaan dan komunitas.
Namun, yang membuat Ma’atûri Dahar menarik bukan semata ritualnya. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat mempertahankan identitas sambil menyesuaikan warisan masa lalu dengan keyakinan dan kehidupan hari ini. Pusaka tidak hanya dipandang sebagai benda tua, makanan tidak berhenti sebagai hidangan, dan makam tidak sekadar tempat peristirahatan terakhir. Semuanya menjadi medium untuk menyambungkan ingatan antargenerasi.
Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti Ma’atûri Dahar menghadirkan pertanyaan yang lebih besar, yakni apa yang sebenarnya diwariskan kepada generasi berikutnya, apakah sebuah ritual, benda pusaka, cerita tentang leluhur, atau nilai untuk menjaga hubungan antarmanusia? Di Kuin, jawabannya tampak dalam bentuk yang sederhana. Orang-orang datang, duduk bersama, berdoa, merawat pusaka, kemudian makan dalam satu ruang yang sama. Sejarah tidak selalu hidup dalam monumen besar. Kadang ia bertahan justru karena ada keluarga dan masyarakat yang masih bersedia mengingat, merawat dan menceritakannya kembali. (SABRIANOOR/H)









