KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah pesatnya pembangunan dan riuk-pikuk aktivitas perkotaan, keasrian alam Kalimantan Tengah masih menyimpan oase yang menenangkan. Danau Tundai, sebuah kawasan perairan yang terletak di Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya, hadir sebagai destinasi wisata alam yang menawarkan ketenangan, keasrian ekosistem rawa gambut, serta kehangatan kehidupan masyarakat nelayan tradisional setempat.

Secara geografis, keunikan Danau Tundai terletak pada letaknya yang dikelilingi vegetasi rawa gambut yang masih terjaga dengan baik. Kawasan ini menyajikan hamparan air yang tenang dan luas dengan warna khas perairan gambut, menciptakan pemandangan lanskap menakjubkan yang memantulkan birunya langit dan gumpalan awan. Lingkungan yang asri ini juga menjadi habitat alami bagi beragam spesies burung lokal serta berbagai jenis ikan air tawar khas Kalimantan.

Perjalanan menuju Danau Tundai memberikan pengalaman tersendiri bagi para wisatawan karena aksesnya yang tidak sepenuhnya dapat ditempuh melalui jalur darat. Pengunjung harus melanjutkan perjalanan menyusuri aliran sungai menggunakan perahu motor tradisional atau klotok. 

"Perjalanan air ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit jika berangkat dari Pelabuhan Tanjung Pinang, atau kurang lebih 60 menit apabila diakses melalui Pelabuhan Bereng Bengkel," ungkap Helmi, warga setempat, Minggu, 23 Agustus 2026.

Sesampainya di lokasi, beragam aktivitas menarik siap menyambut para pelancong. Selain menyusuri danau dengan klotok untuk menikmati panorama matahari terbit maupun terbenam, kawasan ini merupakan lokasi favorit bagi para pecinta hobi memancing ikan air tawar dan fotografi alam. Tak hanya itu, wisatawan juga dapat mencicipi sajian kuliner lokal berupa olahan ikan segar hasil tangkapan nelayan setempat yang dimasak dengan resep khas masyarakat lokal.

Selain potensi wisata alam dan kuliner, Danau Tundai juga menyimpan daya tarik wisata religi yang cukup kuat di Kalimantan Tengah. Di kawasan ini terdapat makam seorang tokoh ulama lokal terkemuka, yaitu Habib Muhammad Yasin Bin Husein Al Idrus atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai Datu Tundai / Habib Danau Tundai. Keberadaan makam ini menjadikannya salah satu tujuan ziarah penting yang kerap dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah.

Melihat berbagai keunggulan tersebut, Pemerintah Kota Palangka Raya terus mempromosikan Danau Tundai sebagai salah satu destinasi wisata unggulan daerah. Keberadaan ekosistem rawa gambut yang kaya akan keanekaragaman hayati ini memposisikan Danau Tundai sebagai kawasan yang memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan menjadi destinasi ekowisata berbasis konservasi yang berkelanjutan.

Dengan perpaduan keindahan alam, potensi wisata religi, dan kearifan lokal masyarakat nelayan, Danau Tundai bukan sekadar tempat untuk melepas penat, melainkan juga wadah edukasi pentingnya menjaga kelestarian ekosistem rawa Kalimantan. (SABRIANOOR/H)