JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Kementerian Kesehatan mengerahkan 314 tenaga medis dan tenaga kesehatan ke tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan konsentrasi utama penanganan berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

Langkah tersebut dilakukan untuk merespons memburuknya kualitas udara dan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Agus Jamaludin mengatakan, personel yang dikerahkan terdiri dari dokter, perawat, bidan dan epidemiolog.

“Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” kata Agus, Minggu, 23 Agustus 2026.

Berdasarkan data Kemenkes per 21 Agustus 2026, lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap karhutla.

Tujuh provinsi terdampak meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Di Kalteng, kasus ISPA dilaporkan meningkat dari 402 kasus menjadi 716 kasus hanya dalam waktu satu minggu atau melonjak sekitar 78,1 persen.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah, terutama karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September 2026.

Selain mengerahkan tenaga kesehatan, Kemenkes juga mendistribusikan berbagai perlengkapan medis dan obat-obatan ke wilayah terdampak.

Logistik yang telah disalurkan meliputi 278.940 masker, 56 unit oxygen concentrator, 40 face shield, 1.000 pasang sarung tangan medis, 36 tabung Oxycan, delapan set alat pelindung diri, 33 dus pemberian makanan tambahan serta obat-obatan dan vitamin.

Khusus di Kalteng, pos kesehatan dan ruang oksigen telah didirikan di sejumlah wilayah rawan, termasuk Kabupaten Barito Utara, Barito Timur dan Kota Palangka Raya.

Upaya tersebut dilakukan untuk memberikan pelayanan lebih cepat kepada masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat di wilayah dengan risiko karhutla tinggi agar membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dan rutin memantau kondisi kualitas udara.

Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.

Hingga data terakhir yang disampaikan, belum terdapat laporan korban jiwa akibat dampak kabut asap karhutla.

ANTARA