JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha berharap tim nasional Indonesia ke depan dikenal sebagai tim yang memiliki mental kuat atau “mental baja” dalam setiap pertandingan.

Menurut Tisha, persoalan mental selama ini kerap menjadi pembahasan ketika Timnas Indonesia gagal meraih hasil maksimal. Karena itu, ia menilai aspek tersebut tidak cukup hanya menjadi bahan perbincangan, tetapi perlu dikaji secara ilmiah melalui pendekatan sport science.

“Kita selalu berbicara kita apa sih kurangnya kita? Kita pasti ada kurang tuh, ah kalah mental. Kita kalau lagi bicara lah ngobrol-ngobrol warung kopi itu ngobrolin seluruh pertandingan sepak bola itu kita pasti keluar kata-kata ‘mental nih, mental nih’. Jadi daripada kita terus-terusan ngobrol-ngobrol aja sifatnya warung kopi, kita turn deh into scientific research,” kata Ratu Tisha di Jakarta, Minggu, 23 Agustus 2026.

Salah satu wadah untuk mengembangkan pendekatan tersebut adalah Liga Universitas Coca-Cola 2026 yang mengusung semangat Football For Mental Health.

Tisha mengatakan aktivitas fisik dapat menjadi salah satu sarana menjaga kesehatan mental. Dalam sepak bola, berbagai aspek seperti penguatan fisik, conditioning hingga pencegahan cedera juga dapat dikembangkan melalui pendekatan ilmu olahraga.

Selain itu, penerapan aturan pertandingan seperti sin bin juga dinilai dapat menjadi bahan penelitian untuk melihat kemampuan pemain dalam mengendalikan emosi saat bertanding.

Tisha berharap upaya tersebut dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter pemain Indonesia.

“Jadi ini adalah sarana untuk area latihan, latihan dan agar kita mungkin 10 tahun dari sekarang bergosipnya itu adalah ‘Wah tim Indonesia itu di mana pun main bolanya level apa pun mentalnya paling kuat’. Inginnya kan visinya gitu ya,” ujarnya.

Ia mencontohkan Jepang sebagai tim yang mampu menunjukkan ketenangan dan kontrol emosi dalam pertandingan.

Menurut Tisha, pembentukan mental pemain tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas. Pemain perlu mendapatkan pengalaman langsung di lapangan agar mampu menerapkan pemahaman tersebut dalam situasi pertandingan.

“Karena yang begini nggak bisa diomongin di dalam ruang kelas, ya bisa hanya satu-dua hari, setelah itu praktiknya ada di lapangan karena kan di sepak bola adalah the real praktiknya,” katanya.

Ia berharap pengembangan aspek mental melalui kompetisi, latihan dan pendekatan ilmiah dapat menjadi bagian penting dalam membangun kualitas pemain Indonesia pada masa mendatang.

ANTARA.