BORNEONEWS, Sampit – Kemunculan seekor orangutan di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), diduga berkaitan dengan kondisi habitat yang terganggu akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit belum memastikan adanya hubungan langsung antara kemunculan satwa tersebut dengan kebakaran.
Orangutan tersebut dilaporkan terlihat warga dalam sepekan terakhir di Jalan Jalur 2 Desa Bapanggang Raya. Lokasi itu berada tidak jauh dari kawasan yang sebelumnya mengalami karhutla.
Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, menjelaskan titik kemunculan orangutan berbeda dengan lokasi kebakaran. Karhutla di Desa Bapanggang Raya saat itu terjadi di Jalur 7, sedangkan satwa terlihat di Jalur 2.
"Di Jalur 2 Desa Bapanggang. Kebakaran saat itu terjadi di Jalur 7," kata Muriansyah, Senin, 24 Agustus 2026.
Dengan kondisi tersebut, BKSDA belum dapat menyimpulkan bahwa kemunculan orangutan dipicu langsung oleh karhutla. Satwa juga tidak terlihat berada di kawasan yang sedang terbakar.
Kemunculan orangutan sempat direkam oleh warga. Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah anakan sawit berserakan di sekitar lokasi. Umbut sawit yang diduga menjadi bagian dari makanan satwa juga ditemukan telah dimakan.
Namun, setelah terekam warga, orangutan tersebut belum kembali terlihat di lokasi.
BKSDA tetap melakukan pemantauan untuk memastikan keberadaan dan pergerakan satwa. Petugas juga terus berkoordinasi dengan warga yang pertama kali melaporkan kemunculan orangutan.
"Kami pantau terus dengan menghubungi warga pelapor," ujar Muriansyah.
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui apakah orangutan kembali muncul di sekitar kebun maupun permukiman warga. Langkah tersebut sekaligus untuk mengantisipasi potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
Orangutan merupakan satwa yang dilindungi dan habitatnya masih terdapat di sejumlah kawasan di Kalimantan. Kemunculannya di sekitar aktivitas masyarakat menjadi perhatian karena interaksi yang tidak terkelola dapat meningkatkan risiko konflik.
BKSDA mengharapkan masyarakat segera melaporkan apabila kembali menemukan orangutan di sekitar kebun atau permukiman. Pelaporan lebih awal diperlukan agar petugas dapat melakukan pemantauan dan mengambil langkah yang sesuai untuk menjaga keselamatan satwa maupun masyarakat.
Selain laporan orangutan di Bapanggang Raya, BKSDA Resort Sampit juga menerima laporan aktivitas satwa liar di Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.
Satwa yang dilaporkan diduga kuat merupakan beruang madu. Satwa tersebut disebut merusak tanaman anakan sawit dan memakan bagian umbut sawit milik warga.
Muriansyah mengatakan laporan tersebut masih menjadi perhatian petugas. Identifikasi tetap diperlukan untuk memastikan jenis satwa yang beraktivitas di kawasan perkebunan masyarakat.
Dua laporan tersebut menunjukkan keberadaan satwa liar masih ditemukan di sekitar wilayah yang berdekatan dengan aktivitas masyarakat.
Karena itu, pemantauan dan keterlibatan warga menjadi bagian penting dalam mencegah konflik manusia dengan satwa liar.
Khusus untuk orangutan di Bapanggang Raya, hingga pemantauan terakhir satwa tersebut belum kembali terlihat. BKSDA Resort Sampit masih mengikuti perkembangannya melalui komunikasi dengan warga yang sebelumnya melaporkan kemunculan orangutan. (DEWI PATMALASARI/J)









