BORNEONEWS, Sampit – Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berada pada kategori tidak sehat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti sejumlah wilayah.
Berdasarkan data aplikasi ISPUnet pada Minggu, 23 Agustus 2026 sekitar pukul 18.00 WIB, indeks standar pencemaran udara (ISPU) Kotim tercatat 111. Parameter yang menjadi perhatian adalah PM2.5, sehingga kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Kondisi tersebut masih tercatat hingga Senin, 24 Agustus 2026 pukul 06.00 WIB.
Kabut asap juga terlihat di sejumlah ruas jalan Kota Sampit. Salah satunya di Jalan Tjilik Riwut, tempat kabut asap tampak menyelimuti kawasan tersebut.
Warga mengaku keberadaan asap sudah dirasakan selama beberapa hari terakhir. Waktu kemunculannya pun tidak menentu. Kabut asap terkadang mulai terlihat sejak siang, sore dan bertahan sampai malam hingga pagi hari.
Pada waktu tertentu, asap justru lebih pekat pada pagi hari sebelum perlahan menipis ketika memasuki siang.
"Kabut asap malam ini cukup tebal. Tidak bisa diprediksi kapan kabut asapnya muncul, kadang paginya cerah, tapi siangnya mulai kabut sampai malam. Kadang juga pagi asapnya tebal, tapi siangnya hilang," ujar Akbar, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi udara tersebut mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Selain jarak pandang yang terganggu, paparan asap juga membuat mata terasa perih dan aroma pembakaran tercium cukup kuat.
"Kalo sudah muncul asap bikin mata perih, baunya juga menyengat banget kada bikin susah napas. Pakai masker kalau keluar rumah, biar ngurangin dampak kabut asalnya," katanya.
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah, terutama pengendara sepeda motor, memilih menggunakan masker sebagai upaya mengurangi paparan asap.
Kabut asap yang menyelimuti Sampit tidak terlepas dari masih berlangsungnya penanganan karhutla di sejumlah wilayah Kotim.
Pemkab Kotim bersama instansi terkait yang tergabung dalam Satgas Penanggulangan Karhutla terus melakukan pemadaman dan penanganan terhadap titik-titik kebakaran.
Berdasarkan data hingga 21 Agustus 2026, tercatat 420 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 1.412 hektare.
Kecamatan Seranau menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 703,5 hektare. Berikutnya Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan 250 hektare dan Kecamatan Baamang sekitar 139 hektare.
Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta tetap waspada terhadap paparan kabut asap, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. (DEWI PATMALASARI/j)









