BORNEONEWS, Sampit – Dukungan suplai air dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) membantu memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Bantuan tersebut menjadi penting di tengah semakin terbatasnya sumber air akibat musim kemarau.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam mengatakan, suplai air dari OPD berjalan efektif dalam mendukung operasional unit fighter di lapangan.
Hal tersebut dilakukan menindaklanjuti arahan Bupati Kotim Halikinnor agar OPD ikut membantu menyediakan air untuk kebutuhan pemadaman karhutla.
"Sangat membantu sekali sehingga unit fighter yang ada kurang lebih sekitar 15 ini bisa optimal bekerja dan itu dalam empat hari sudah berjalan dan sudah mulai teratur," kata Multazam, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurutnya, dukungan tersebut membuat kebutuhan air untuk pemadaman lebih terjamin sehingga tim dapat bekerja lebih optimal di sejumlah titik kebakaran.
BPBD berharap pola dukungan suplai air tersebut dapat terus dilanjutkan selama penanganan karhutla masih berlangsung.
"Mudah-mudahan ini kita bisa terus lanjutkan agar proses percepatan pendinginan atau percepatan pada eskalasi atau perluasan bisa kita segerakan," ujarnya.
Ketersediaan air menjadi salah satu kendala dalam penanganan karhutla di Kotim. Sebagian besar titik kebakaran berada di kawasan gambut yang membutuhkan penanganan berulang untuk memastikan api benar-benar padam.
Multazam mengatakan, sejumlah embung yang sebelumnya disiapkan sebagai sumber air kini mulai mengering akibat musim kemarau.
"Rata-rata kejadian di kawasan gambut. Sekarang ada beberapa embung yang sudah sebenarnya kita siapkan, tapi sekarang kondisinya sudah kering," jelasnya.
Kondisi tersebut membuat dukungan air dari OPD menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat operasi pemadaman dan pendinginan.
Berdasarkan data BPBD Kotim, sejak Januari hingga 21 Agustus 2026 tercatat 420 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.412,14 hektare. Sementara jumlah hotspot mencapai 6.793 titik.
Peningkatan paling signifikan terjadi pada Agustus. Pada 1-21 Agustus, luas lahan terbakar bertambah 1.104,64 hektare dari 274 kejadian. Pada periode tersebut tercatat 6.276 hotspot. (DEWI PATMALASARI/j)









