SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Rencana modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum dapat dilaksanakan.

Program yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih terkendala minimnya awan hujan.

"Kami ini masih menunggu dari program BNPB bersama BMKG. Tetapi informasi terakhir yang kami dengar memang awan hujan belum ada sehingga proses modifikasi cuaca sampai dengan sekarang masih ditangguhkan," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam, Senin, 24 Agustus 2026.

Menurutnya, keberadaan awan hujan menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan modifikasi cuaca. Saat kondisi belum mendukung, proses tersebut belum dapat dilakukan secara optimal.

Sementara itu, kondisi karhutla di Kotim masih menjadi perhatian. Berdasarkan data BPBD Kotim, sejak Januari hingga 21 Agustus 2026 tercatat 420 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.412,14 hektare.

Dalam periode yang sama, jumlah hotspot yang terpantau mencapai 6.793 titik.

Peningkatan paling signifikan terjadi pada Agustus. Pada 1-21 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 1.104,64 hektare dari 274 kejadian, dengan jumlah hotspot sebanyak 6.276 titik.

Multazam mengatakan, sebagian besar lokasi karhutla berada di kawasan gambut. Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan kembali muncul meski api di permukaan telah dipadamkan.

Selain kondisi lahan, petugas juga menghadapi kendala ketersediaan air. Sejumlah embung yang sebelumnya disiapkan sebagai sumber air untuk pemadaman kini mulai mengering akibat musim kemarau.

"Rata-rata kejadian di kawasan gambut. Sekarang ada beberapa embung yang sudah sebenarnya kita siapkan, tapi sekarang kondisinya sudah kering," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)