BORNEONEWS, Kuala Pembuang – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, terus diperkuat melalui deteksi dini, patroli lapangan, kesiapan personel, serta koordinasi lintas sektor.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin, khususnya di wilayah Kecamatan Seruyan Tengah dan Batu Ampar yang berada di sekitar kawasan Operasional Perkebunan.
Salah satu perusahaan yang memperkuat langkah pencegahan tersebut adalah Sinarmas Agribusiness and Food. Kesiapsiagaan dilakukan dengan memastikan sarana dan prasarana pengendalian Karhutla dalam kondisi siap digunakan.
Fasilitas yang diperiksa antara lain menara pantau api, embung, sumber air, serta berbagai peralatan pendukung pemadaman. Pemantauan juga dibantu teknologi drone untuk mempercepat identifikasi indikasi titik panas di lapangan.
Selain kegiatan internal, pencegahan dilakukan melalui patroli dan sosialisasi bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, pemerintah desa, serta Masyarakat.
Danramil 1015-17/Rantau Pulut Lettu Muhyidin mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur diperlukan untuk memperkuat upaya pencegahan karhutla.
"Kami siap mendukung dan terus bersinergi dalam upaya pencegahan karhutla di wilayah Kecamatan Seruyan Tengah dan Batu Ampar. Kami juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar," ujar Muhyidin, Minggu, 23 Agustus 2026.
Sementara itu, Camat Seruyan Tengah Ineta Panderova menilai pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak secara berkelanjutan.
"Kami mendukung kegiatan sosialisasi dan patroli bersama yang dilakukan Sinarmas sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla di wilayah Seruyan Tengah," ujar Ineta.
General Manager Sinarmas Agribusiness and Food area Kalimantan Tengah Bambang S, juga EM Sungai Ayawan Estate, Hendry Bawadi, mengatakan pencegahan menjadi fokus utama perusahaan dalam menghadapi ancaman karhutla.
Menurutnya, perusahaan tidak ingin penanganan dilakukan setelah api muncul. Karena itu, pemantauan, patroli, kesiapan peralatan, dan edukasi terus secara Pro aktif dijalankan.
"Pencegahan karhutla adalah prioritas bersama. Kami tidak ingin menunggu hingga terjadi kebakaran baru melakukan penanganan. Karena itu, deteksi dini, patroli rutin, kesiapan sarana dan prasarana, serta edukasi kepada karyawan dan masyarakat terus kami lakukan," ungkap Hendry.
Pemanfaatan drone menjadi salah satu bagian dari sistem deteksi dini yang diterapkan di wilayah operasional perkebunan Sinarmas di Kalimantan Tengah.
Teknologi tersebut membantu tim melakukan pemantauan wilayah dengan lebih cepat serta menemukan indikasi titik panas yang membutuhkan tindak lanjut.
Kesiapsiagaan itu juga diperkenalkan dalam kegiatan pencegahan karhutla yang digelar pada Agustus 2026. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta dari unsur perusahaan, pemerintah, aparat keamanan, pemerintah desa dan pemangku kepentingan lainnya.
Tim Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat (KTD) Sinarmas Kalimantan Tengah dalam kegiatan tersebut turut memaparkan kesiapan personel, serta sarana dan prasarana untuk menghadapi karhutla.
Simulasi penanganan kebakaran juga dilakukan untuk menguji kemampuan personel sekaligus memastikan koordinasi dapat berjalan ketika menghadapi kondisi darurat.
Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Tengah, Au Rizky Djaya, menegaskan pentingnya keterlibatan perusahaan perkebunan dalam mencegah dan menangani karhutla.
"Kami memastikan Komitmen PBS (Perusahaan Besar Swasta) untuk menangani Karhutla. Salah satunya Sinarmas Agribusiness and Food yang juga merupakan anggota GAPKI telah menunjukkan komitmen tersebut," kata Rizky Djaya.
Rizky menegaskan setiap perusahaan perkebunan kelapa sawit memiliki tanggung jawab untuk menjaga areal perkebunannya masing-masing. Perusahaan juga diharapkan turut membantu masyarakat di sekitar wilayah operasional apabila terjadi kebakaran.
Selain itu, perusahaan perkebunan diwajibkan memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung upaya pemadaman karhutla.
"Setiap perusahaan perkebunan diwajibkan memiliki sarana dan prasarana pemadam kebakaran hutan dan lahan," tambahnya.
Dukungan perusahaan, lanjut Rizky, tidak hanya ditujukan untuk mengamankan kawasan perkebunan. Bantuan juga diharapkan diberikan ketika kebakaran terjadi di lahan masyarakat yang berada di sekitar kawasan perusahaan.
Ia menyebut keterlibatan tersebut telah dilakukan oleh seluruh perusahaan kelapa sawit yang tergabung sebagai anggota GAPKI.
Melalui penguatan deteksi dini, patroli, kesiapan peralatan dan personel, serta kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat, upaya pencegahan karhutla diharapkan dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas tegasnya. (DEWI PATMALASARI/J)









