BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kisah miris diungkapkan salah satu guru honor di SMA Negeri Pangkalan Bun. Dengan gaji Rp400 ribu per bulan, Nurlaeli (37) tetap harus mengajar selama 6 hari dalam sepekan.
Tragisnya lagi, penghasilannya itu masih harus dikurangi biaya transportasi sekitar Rp120 ribu per bulan. "Jauh mas, kalau gaji saja satu minggu juga habis," ujar perempuan berjilbab itu, saat dibincangi Borneonews di sekolahnya, Kamis (12/1/2017).
Nur, sapaan akrabnya, menggantungkan hidupnya pada penghasilan suami yang bekerja sebagai pekerja serabutan, dengan penghasilan di bawah Rp2 juta per bulannya. "Ya mau bagaimana lagi, suami bekerja sebagai pekerja serabutan, untuk biaya hidup saja kami sering ngutang ke warung," bebernya.
Meski sering mendapat bantuan dari guru-guru yang berstatus ASN, ia mengaku mulai risih. "Sering dibantu, tapi kan lama-lama jadi malu, untungnya banyak kawan sesama guru yang baik," ucapnya.
Nasib serupa dialami Husni, pria yang mengaku sudah menjadi guru honor selama lima tahun di Kobar itu mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.
Tidak jarang, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Husni berjualan ayam yang diternakkan bersama istri dan anak-anaknya. Atau bekerja serabutan di hari-hari libur mengajar.
"Kadang saya kasih tugas sama anak-anak lalu izin ke pasar sebentar untuk berjualan ayam," kisah Bapak dua anak itu.
Menurutnya, pembangun infrastruktur memang perlu. Tapi jika kesejahteraan guru tidak diperhatikan, pembangunan sumber daya manusia pasti akan hancur. "Semoga para pemimpin di daerah maupun pusat tergerak hatinya untuk memperhatikan nasib kami," harapnya.
Nurlaeli dan Husni hanya beberapa orang dari ratusan guru honorer di Kobar yang memiliki nasib serupa. Jika pemerintah memiliki komitmen memperbaiki sektor pendidikan, sudah saatnya nasib para guru honor itu diperhatikan.(FAHRUDDIN FITRIYA/B-8)








