BORNEONEWS, Pontianak – Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap dampak musim kemarau meskipun jumlah titik panas atau hotspot di wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan.
Menurut Ria Norsan, kewaspadaan perlu terus ditingkatkan karena berdasarkan informasi BMKG, kondisi kering diperkirakan mencapai puncak pada September 2026.
“Meski terjadi penurunan, kami mengingatkan agar tidak lengah karena puncak El Nino diprediksi BMKG terjadi pada September,” kata Ria Norsan di Pontianak, Selasa, 25 Agustus 2026.
Ia mengatakan jumlah hotspot di Kalbar yang sebelumnya sempat mencapai lebih dari 2.000 titik kini turun menjadi 28 titik.
Penurunan tersebut dinilai tidak terlepas dari kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, masyarakat serta Brigade Pengendalian Karhutla Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).
Pemprov Kalbar memastikan koordinasi bersama Satuan Tugas Karhutla tetap diperkuat guna menekan risiko kebakaran dan kabut asap.
Ria sebelumnya turut mendampingi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau lokasi karhutla di Desa Rasau Jaya Tiga, Kabupaten Kubu Raya, Senin, 24 Agustus 2026.
Dalam peninjauan tersebut, pemerintah mengevaluasi efektivitas operasi pemadaman melalui jalur darat maupun udara.
Sementara itu, Raja Juli Antoni mengatakan berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi), sebaran titik panas mulai bergeser dari Kalimantan menuju Sumatra.
Di Kalimantan Barat tercatat 28 hotspot, terdiri atas 16 titik di Ketapang, 11 titik di Melawi dan satu titik di Kubu Raya.
Sedangkan di Sumatra, Sumatera Selatan tercatat memiliki 127 titik panas, Riau 54 titik dan Jambi 40 titik.
Raja Juli mengapresiasi kerja tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni, BMKG serta Masyarakat Peduli Api dalam pengendalian karhutla.
Menurutnya, operasi pemadaman dari udara telah dilakukan sekitar 200 kali dan turut membantu menekan jumlah titik panas.
Namun, asap masih terlihat di sejumlah kawasan karena pembakaran tidak sempurna pada lahan gambut.
“Meskipun api mulai padam, asap masih menyelimuti wilayah karena pembakaran tidak sempurna di lahan gambut,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar selama kondisi cuaca kering.
“Masyarakat sangat diimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar selama kondisi cuaca kering ini. Percikan api sekecil apa pun sangat berbahaya,” katanya.
ANTARA









