BORNEONEWS, Batulicin – Kemarau panjang berdampak terhadap sekitar 800 hektare tanaman padi di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Dari luas tersebut, sekitar 200 hektare bahkan terancam gagal panen akibat kekurangan air.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Tanah Bumbu Robby Chandra mengatakan, secara keseluruhan terdapat 3.823 hektare tanaman padi yang ditanam pada periode Juli hingga Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sekitar 800 hektare mengalami dampak kekeringan yang tersebar di empat kecamatan.
“Lahan 800 hektare tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Kecamatan Batulicin mencapai 19 hektare, Kecamatan Kusan Hulu tujuh hektare, Kusan Tengah 491 hektare, dan Kecamatan Kusan Hilir 283 hektare,” kata Robby di Batulicin, Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi paling mengkhawatirkan terjadi pada sekitar 200 hektare sawah yang tanahnya mulai mengering dan retak.
“Kalau tidak segera ada hujan, dikhawatirkan tanaman padi itu mengering dan mati, sehingga gagal panen,” ujarnya.
Tanaman padi yang rata-rata berumur lebih dari dua bulan itu mulai memperlihatkan tanda kekurangan air. Daunnya terlihat melipat atau menggulung, bagian ujung mengering, pertumbuhan terhambat hingga jumlah anakan berkurang.
Robby menjelaskan, periode April hingga September biasanya menjadi salah satu waktu yang digunakan petani untuk menanam padi. Namun, kondisi cuaca tahun ini menyebabkan tanaman yang ditanam pada Juli mulai mengalami kekeringan.
Sawah yang berada dekat sumber air relatif lebih mampu bertahan karena petani masih dapat memanfaatkan pompa untuk mengalirkan air dari sungai maupun sumber lainnya.
Menurut Robby, apabila kebutuhan air terpenuhi, produktivitas padi dapat mencapai sekitar 4,2 ton gabah per hektare.
Sementara pada tanaman yang terdampak kemarau, hasil panen diperkirakan turun tajam.
“Jika kebutuhan air pada padi terpenuhi maka tanaman tersebut mampu menghasilkan gabah kurang lebih mencapai 4,2 ton per hektare. Sedangkan tanaman yang terdampak kemarau kemungkinan hasil panen sekitar 2,5 kuintal per hektare,” jelasnya.
Pemerintah daerah terus mencermati perkembangan kondisi lahan pertanian, terutama kawasan yang tidak memiliki sumber air memadai, karena kekeringan berkepanjangan berpotensi memperluas areal tanaman yang terdampak.
ANTARA









