JAKARTA –

BORNEONEWS, Washington – Serangan Iran dilaporkan menyebabkan kerusakan berat terhadap sejumlah fasilitas intelijen dan peralatan pengawasan milik Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.

NBC News, sebagaimana dikutip Sputnik/RIA Novosti, melaporkan tingkat kerusakan tersebut disebut lebih parah dibandingkan kerusakan yang pernah dialami fasilitas badan intelijen AS sebelumnya.

Berdasarkan laporan itu, biaya untuk memulihkan fasilitas serta peralatan pengawasan yang terdampak diperkirakan mencapai miliaran dolar AS.

Namun, laporan tersebut belum merinci lokasi fasilitas yang mengalami kerusakan maupun jenis peralatan intelijen yang terdampak.

Kerusakan itu disebut berkaitan dengan rangkaian konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang meningkat sejak awal 2026.

Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel dilaporkan mulai melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah target.

Pada pertengahan Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman yang ditujukan untuk menghentikan permusuhan.

Namun, setelah kesepakatan tersebut, kedua pihak dilaporkan kembali terlibat serangan sehingga konflik belum sepenuhnya terselesaikan.

Meski saat ini tidak dilaporkan berlangsung permusuhan secara aktif, ketegangan antara Washington dan Teheran masih berlanjut.

Amerika Serikat juga dilaporkan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai bagian dari upaya memberikan tekanan finansial kepada Teheran.

Sampai saat ini, belum terdapat rincian dalam laporan tersebut mengenai besaran pasti kerugian maupun jangka waktu yang diperlukan untuk memulihkan fasilitas intelijen AS yang terdampak.

ANTARA