BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Industri minyak sawit kembali menghadapi tekanan di Eropa setelah badan pengawas keamanan makanan (EFSA) menyebutkan minyak sawit berpotensi mengandung kontaminan karsinogenik, yang merupakan pemicu kanker.

Potensi itu muncul ketika minyak nabati yang berasal dari sawit diolah dengan suhu melebihi 200 derajat Celcius. Untuk itu, EFSA merekomendasikan konsumen untuk tidak mengonsumsi makanan yang mengandung minyak nabati sawit.

Mendengar tuduhan tersebut, produsen makanan asal Italia, Ferrero, yang kondang dengan produk bernama Nutella, menerbitkan iklan di media untuk meyakinkan masyarakat bahwa Nutella aman bagi kesehatan.

Nutella, produk berupa selai hazelnut dan cokelat, menggunakan minyak sawit untuk melembutkan selai buatan mereka. Jika menggunakan minyak nabati selain dari sawit, seperti minyak bunga matahari atau minyak kanola, akan mengubah karakter selai serta biaya pembuatannya lebih mahal, kata Ferrero.

“Membuat Nutella tanpa minyak sawit akan menghasilkan produk yang kualitasnya lebih buruk, dan ini merupakan langkah mundur,” kata manajer pembelian Ferrero, Vincenzo Tapella, kepada Reuters.

Bila menggunakan minyak nabati selain sawit, katanya, akan memberikan implikasi ekonomi, karena minyak sawit adalah minyak nabati termurah. Untuk diketahui, harga minyak sawit sekitar US$800 per ton, dibandingkan dengan US$845 untuk minyak bunga matahari dan US$920 untuk minyak kanola.

Ferrero menggunakan sekitar 185.000 ton minyak sawit per tahun. Jadi, bila mengganti dengan minyak nabati lain, akan menambah biaya sekitar US$8 hingga US$22 juta per tahun.

Untuk itu, Ferrero memutuskan akan tetap menggunakan minyak sawit untuk Nutella. (NEDELYA RAMADHANI/m)