SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyisakan dampak yang tak selalu terlihat. Di balik lahan dan vegetasi yang hangus, sejumlah satwa liar turut mati karena tidak sempat menyelamatkan diri dari amukan api.

Kondisi itu ditemukan pecinta reptil di Sampit, Hary Siswanto. Dalam dua pekan terakhir, ia mengumpulkan bangkai satwa liar dari sejumlah lokasi yang terdampak karhutla.

Satwa-satwa tersebut ditemukan dalam kondisi sudah mati. Tubuhnya hangus setelah terpanggang api yang melalap kawasan tempat mereka berada.

Dari hasil temuan selama dua pekan, Hary mencatat sedikitnya 20 ekor ular sanca batik (Reticulatus), satu ekor king cobra, tiga ekor ular dipong, satu ekor biawak, dan satu ekor ular air menjadi korban.

"Total yang kami temukan selama dua pekan ini ada 20 jenis sanca reticulatus, satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak, dan satu ekor ular air. Semuanya sudah dalam kondisi mati," kata Hary, Rabu, 26 Agustus 2026.

Temuan itu meninggalkan keprihatinan mendalam bagi Haryy. Sebagai pecinta satwa liar, ia menyayangkan karhutla yang terus terjadi karena dampaknya bukan hanya dirasakan manusia, tetapi juga menghancurkan tempat hidup satwa dan mematikan penghuninya.

"Saya merasa sedih dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan ini. Satwa liar juga menjadi korban. Harapannya, satwa liar yang menjadi korban tidak terus bertambah," ujarnya.

Hary menilai kematian satwa akibat karhutla tidak semestinya dipandang sebagai dampak sampingan semata. Setiap satwa memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Ketika habitat mereka terbakar dan populasi satwa berkurang, keseimbangan alami di lingkungan juga dapat terganggu.

"Bagaimanapun, satwa liar ini merupakan penyeimbang ekosistem," ucapnya.

Karena itu, menurut Hary, pencegahan karhutla menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan satwa liar. Semakin luas kawasan yang terbakar, semakin besar pula potensi hilangnya habitat dan korban satwa.

Temuan satu ekor biawak yang mati terbakar juga menjadi perhatian Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah. Ia mengaku heran karena biawak dikenal sebagai satwa yang memiliki kemampuan bergerak cepat ketika menghadapi ancaman.

"Bisa-bisanya biawak terbakar jua. Padahal satwa ini terkenal cepat menyelamatkan diri," kata Muriansyah.

Menurutnya, ada kemungkinan biawak tersebut tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri karena kondisi di lokasi kebakaran.

Satwa itu bisa saja terjebak atau terkepung api sehingga tidak menemukan jalur untuk menyelamatkan diri.

"Mungkin terkurung atau terjebak, jadi tidak ada celah lagi untuk menyelamatkan diri," ujarnya.

Bangkai-bangkai satwa yang ditemukan menjadi gambaran lain dari dampak karhutla. Api tidak hanya mengubah vegetasi menjadi hamparan lahan terbakar, tetapi juga mengancam kehidupan yang bergantung pada kawasan tersebut.

Satwa yang mampu bergerak cepat mungkin memiliki peluang untuk keluar dari lokasi kebakaran. Namun, tidak semua satwa memiliki kesempatan yang sama. Ketika api mengepung kawasan, sebagian satwa akhirnya terjebak dan mati terpanggang. (DEWI PATMALASARI/H)