BORNEONEWS, Palangka Raya — Jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Palangka Raya mencapai 16.166 kasus sejak Januari hingga pekan ketiga Agustus 2026, tercatat sebagai angka tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah.
Meski angkanya cukup tinggi, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengingatkan agar data tersebut tidak serta-merta dimaknai sebagai jumlah warga yang mengalami ISPA berat akibat paparan kabut asap karhutla.
Fairid menjelaskan bahwa angka 16.166 merupakan akumulasi kasus ISPA yang tercatat setelah masyarakat mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Data tersebut belum dapat menggambarkan secara keseluruhan tingkat keparahan maupun faktor penyebab dari masing-masing kasus.
“Kalau secara data, apa pun kita input. Jadi bukan berarti tinggi lalu semua itu terpapar. Yang paling penting bagaimana kita melakukan pelayanan dan penanganannya,” tegas Fairid, Kamis, 27 Agustus 2026.
Ia menambahkan kondisi pasien yang datang berobat cukup beragam. Sebagian di antaranya memiliki penyakit penyerta seperti asma akut yang dapat memperburuk gangguan pernapasan, sementara pasien tanpa penyakit bawaan umumnya mengalami ISPA dengan kondisi lebih ringan dan dapat ditangani dengan baik.
Hingga saat ini, belum terdapat laporan kematian akibat ISPA di Kota Palangka Raya.
Meski demikian, Fairid mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan, terutama warga yang memiliki riwayat penyakit seperti asma.
Pemeriksaan sejak dini dinilai penting agar kondisi pasien tidak berkembang menjadi lebih serius.
Tingginya angka ISPA tetap menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Palangka Raya, terlebih kondisi kualitas udara masih dipengaruhi kabut asap karhutla.
Pemerintah menegaskan tidak hanya berfokus pada angka statistik, tetapi memastikan pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi peningkatan keluhan pernapasan.
"Dengan penanganan yang cepat dan kewaspadaan masyarakat, risiko gangguan pernapasan diharapkan dapat terus ditekan," pungkasnya. (PATHUR/j)









