PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Diplomasi sawit Indonesia tidak hanya dilakukan melalui meja perundingan internasional. Sejumlah diplomat, negosiator perdagangan, serta perwakilan kementerian dan lembaga turun langsung ke lapangan untuk melihat penerapan praktik sawit berkelanjutan di Kalimantan Tengah.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam rangkaian Program Peningkatan Kapasitas Negosiasi Luar Negeri dan Diplomasi terkait Praktik Minyak Sawit Berkelanjutan pada 10–12 Agustus 2026.

Program yang diselenggarakan Center for World Trade Studies Universitas Gadjah Mada atau CWTS UGM bersama FAST Project UNDP Indonesia dengan dukungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian itu salah satunya membawa peserta mengunjungi area operasional PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS di Kabupaten Kotawaringin Barat.

Di lokasi tersebut, peserta meninjau kebun pekebun swadaya binaan perusahaan, Sulung Estate, hingga Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sulung.

Direktur Sustainability PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk, Henky Satrio Wibowo, mengatakan keberlanjutan harus menjadi bagian dari praktik operasional sehari-hari.

“Keberlanjutan bukan hanya soal memenuhi standar atau sertifikasi. Yang penting adalah bagaimana prinsip tersebut diterapkan dalam kegiatan sehari-hari,” ujarnya dalam rilis kepada Borneonews pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Menurutnya, penerapan tersebut mencakup pengelolaan kebun, keterlibatan pekebun, pengelolaan lingkungan, keselamatan kerja hingga proses produksi di pabrik.

Henky menambahkan, kunjungan lapangan juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara pelaku industri dan para peserta yang akan menghadapi isu sawit di forum internasional.

“Kami terbuka untuk berbagi pengalaman mengenai praktik yang kami jalankan. Di sisi lain, kami juga mendapatkan perspektif mengenai tantangan industri sawit Indonesia dalam menghadapi kebutuhan dan perkembangan di tingkat global,” katanya.

Pengalaman langsung di lapangan diharapkan memperkuat pemahaman peserta mengenai praktik sawit berkelanjutan sekaligus menjadi bekal dalam membangun narasi Indonesia pada forum perdagangan dan diplomasi internasional. (TESTI PRISCILLA/y)