BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya meminta satuan pendidikan jenjang SMP meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kondisi karhutla yang dapat berdampak terhadap kualitas udara dan proses pembelajaran.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Muhammad Aswani, S.Pd., M.Pd., saat memberikan pembinaan kepada kepala sekolah dalam pertemuan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) di SMP Negeri 5 Palangka Raya pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Aswani mengatakan, sekolah harus menjadikan kondisi lingkungan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan pelaksanaan pembelajaran. Apabila kualitas udara tidak memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka, sekolah harus siap mengambil langkah sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kondisi karhutla perlu menjadi perhatian sekolah. Kita harus memperhatikan kualitas udara dan kondisi lingkungan dalam menentukan pelaksanaan pembelajaran,” ujarnya dalam rilis pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurutnya, kesiapan tidak hanya menyangkut keputusan untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), tetapi juga bagaimana sekolah memastikan orang tua dan peserta didik memahami mekanisme pembelajaran apabila kebijakan tersebut harus diterapkan.
Karena itu, ia meminta sekolah mempersiapkan instrumen yang diperlukan untuk mendukung komunikasi dan pelaksanaan PJJ. Langkah tersebut dinilai penting agar proses belajar tetap dapat berjalan meskipun kondisi lingkungan tidak mendukung pembelajaran tatap muka.
Selain kesiapsiagaan menghadapi karhutla, Aswani mengingatkan kepala sekolah agar memperkuat keamanan lingkungan sekolah. Pemeriksaan instalasi listrik, pencegahan kebakaran, keamanan sarana prasarana, serta pemeliharaan aset harus dilakukan secara berkala.
“Pencegahan itu lebih baik daripada menunggu kejadian. Aset sekolah adalah tanggung jawab kita bersama, sehingga harus dijaga sejak awal,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, ia juga mengingatkan sekolah mengenai pentingnya validitas data pendidikan menjelang cut off 31 Agustus 2026. Data peserta didik, rombongan belajar, PTK, sarana dan prasarana harus dipastikan sesuai kondisi sebenarnya sebelum dilakukan sinkronisasi.
Tak hanya aspek teknis, Aswani menekankan pentingnya perlindungan peserta didik melalui pencegahan anak putus sekolah. Sekolah diminta melakukan identifikasi sejak dini terhadap siswa yang membutuhkan perhatian dan membangun komunikasi dengan orang tua untuk mencari solusi.
“Jangan sampai kita menunggu anak berhenti sekolah baru kita bergerak. Kita harus mengetahui sejak awal siapa yang membutuhkan perhatian dan mencari solusi bersama,” tegasnya.
Ia juga mendorong kepala sekolah memaksimalkan kegiatan ekstrakurikuler, kompetisi dan literasi sebagai wadah untuk menemukan serta mengembangkan minat dan bakat peserta didik.
“Setiap anak memiliki potensi. Tugas sekolah adalah memberikan ruang agar potensi itu ditemukan, dikembangkan, dan diarahkan menjadi prestasi,” ungkapnya.
Aswani berharap seluruh kepala sekolah dapat memperkuat tata kelola satuan pendidikan secara menyeluruh, mulai dari kesiapan menghadapi karhutla, keamanan aset, validitas data, perlindungan siswa hingga pengembangan prestasi.
Dengan penguatan tersebut, sekolah diharapkan tetap mampu memberikan layanan pendidikan yang aman, adaptif dan berkualitas, sekaligus semakin dekat dengan masyarakat. (TESTI PRISCILLA/H)









