BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Aura negatif dari melemahnya harga minyak nabati di pasar global, Kamis (12/1/2017), sepertinya akan mempengaruhi keputusan pelaku pasar untuk bertransaksi minyak sawit akhir pekan ini.
Terlebih pada perdagangan kemarin, harga minyak sawit ditutup melemah akibat menguatnya nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar AS dan melemahnya harga minyak nabati lain yang menjadi rival minyak sawit.
Futures minyak sawit kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, Kamis, turun 0,5 persen menjadi 3.116 ringgit ($699) per ton. Tercatat volume perdagangan sebanyak 50.931 lot.
Faktor lain yang akan dipertimbangkan pelaku pasar adalah kenaikan harga biji kedelai di AS yang menyentuh level tertinggi dalam tiga setengah pekan setelah Departemen Pertanian AS memangkas prediksi untuk panen kedelai 2016 dan menurunkan proyeksi cadangan kedelai domestik. Kondisi ini kemungkinan akan difaktorkan pelaku pasar, yang diharapkan dapat meredam sentimen negatif dari pelemahan harga minyak kedelai, kata analis seperti dikutip Reuters.
Futures minyak kedelai untuk kontrak Maret, BOv1, di Chicago Board of Trade (CBOT) turun 0,5 persen. Untuk minyak kedelai kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange, DBYcv1, naik 0,4 persen, sedangkan olein sawit kontrak Mei di Dalian, DCPcv1, menguat 0,9 persen.
Sementara itu, penguatan harga minyak mentah di New York semalam akan menjadi faktor lain yang akan dipertimbangkan pelaku pasar di pasar komoditas.
Di New York Mercantile Exchange, minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak Februari ditutup naik 76 sen, atau 1,5%, menjadi $53,01 per barrel. Ini adalah level tertinggi sejak penutupan akhir pekan lalu. Sedangkan minyak mentah Brent untuk kontrak Maret di ICE Futures exchange, London, menguat 91 sen, atau 1,7%, menjadi $56,01 per barrel. (NEDELYA RAMADHANI/m)








