BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Adalah badan pengawas keamanan makanan Eropa (EFSA) yang pertama kali menyebutkan sawit berpotensi mengandung kontaminan karsinogenik, yang merupakan pemicu kanker.
Potensi itu muncul ketika minyak nabati yang berasal dari sawit diolah dengan suhu melebihi 200 derajat Celcius. Untuk itu, EFSA merekomendasikan konsumen untuk tidak mengonsumsi makanan yang mengandung minyak nabati sawit.
Salah satu pihak yang meradang akibat hasil studi EFSA itu adalah Ferrero, perusahaan makanan dan minuman asal Italia yang memproduksi beragam produk, salah satunya selai hezelnut dan cokelat bermerek Nutella.
Mengabaikan keberatan yang diungkapkan Ferrero, ada baiknya Anda mengetahui manfaat kesehatan dari sawit, terutama kemampuan senyawa yang dikandung buah ini dalam menangkal kanker.
Perlu Anda ketahui, sawit kaya dengan molekul bernama polifenol. Meski sering dikaitkan dengan nutrisi berbasis tumbuhan, tapi tak banyak yang tahu arti dari polifenol. Polifenol adalah kimia alami berbasis tumbuhan yang memiliki banyak manfaat kesehatan.
Contohnya, polifenol yang ditemukan di dalam sawit adalah antioksidan alami. Seperti dilansir dalam blog Journal of Oil Palm, Environment and Health, terungkap bukti ilmiah terbaru yang menyebutkan bahwa polifenol adalah kimia alami, aman dan murah dalam memberikan manfaat kesehatan bagi manusia. Mungkin Anda selama ini lebih tahu bahwa polifenol banyak ditemukan pada buah anggur, teh dan cokelat. Kini juga memasukkan sawit dalam daftar tanaman yang mengandung polifenol.
Polipenol sawit termasuk karoten dan vitamin E tokotrienol. Kedua senyawa ini sudah dikaji dan diketahui memiliki manfaat kesehatan bagi otak, jantung dan kulit dalam melawan kanker.
Disebutkan juga bahwa polifenol sawit sudah diteliti terkait kemampuannya dalam mengurangi tekanan darah dengan meningkatkan kadar oksida nitrat di sistem peredaran darah.
Mungkin dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait dengan temuan EFSA tersebut agar masyarakat yang selama ini bergantung pada produk yang mengandung sawit menjadi lebih tenang dan tercipta pemahaman mengenai manfaat kesehatan dari sawit, selain untuk meredam kesimpangsiuran informasi yang beredar. (NEDELYA RAMADHANI/m)








