BORNEONEWS, Tamiang Layang – Laporan cepat masyarakat menjadi pintu awal penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di pinggir Jalan Janah Munsit, Desa Sarapat, Kabupaten Barito Timur, Kamis sore, 27 Agustus 2026.
Informasi mengenai kemunculan api yang disampaikan masyarakat melalui grup WhatsApp langsung direspons Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD dan Damkar Kabupaten Barito Timur.
Tim bergerak menuju lokasi pada pukul 16.42 WIB dan tiba sekitar 15 menit kemudian. Api saat itu membakar lahan sekitar satu hektare yang ditumbuhi semak belukar, pepohonan serta pohon karet.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan kecepatan informasi dari masyarakat sangat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api berkembang lebih luas.
“Kalau masyarakat melihat adanya titik api, segera laporkan kepada petugas. Informasi yang cepat sangat membantu kami untuk segera melakukan penanganan di lapangan,” kata Parluhutan.
Setibanya di lokasi, tim gabungan langsung melakukan pemadaman dengan mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran, mobil tangki atau tandon air, mesin pompa, nozzle dan selang pemadam.
Pemadaman melibatkan 10 personel TRC-PB BPBD Barito Timur bersama personel Polres Barito Timur, Bhabinkamtibmas Desa Sarapat, Kepala Desa Sarapat, petugas Damkar Pos Pemda dan Pos Mako, Sulung Rescue serta Relawan Mungkur Kandangan.
Suplai air selama proses pemadaman berasal dari tangki unit Damkar Mako. Petugas harus bergerak cepat karena kondisi vegetasi di lokasi cukup kering dan lebat sehingga api mudah menjalar melalui semak-semak.
“Kondisi semak belukar yang kering dan lebat membuat api cepat merambat sehingga perlu segera dilakukan pemadaman agar tidak semakin meluas,” ujar Parluhutan.
Petugas tidak hanya memadamkan kobaran api, tetapi juga melakukan penyisiran di area terdampak untuk memastikan tidak ada bagian vegetasi yang masih menyimpan bara.
Upaya pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 18.45 WIB. Setelah kurang lebih dua jam berjibaku di lapangan, api berhasil dikendalikan dan lahan yang terbakar sekitar satu hektare dinyatakan padam.
Pengecekan kembali dilakukan setelah api berhasil dipadamkan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa, terlebih kondisi pencahayaan mulai berkurang karena hari beranjak malam.
“Selain vegetasi yang kering dan lebat, kendala lainnya adalah pencahayaan yang semakin berkurang karena hari mulai malam. Karena itu, setelah api berhasil dipadamkan, anggota tetap melakukan pengecekan untuk memastikan tidak ada titik api yang masih menyala,” tutur Parluhutan.
Setelah kondisi lokasi dipastikan aman dan seluruh personel dalam keadaan lengkap, tim gabungan meninggalkan lokasi untuk kembali ke tempat tugas masing-masing.
Peristiwa tersebut kembali menunjukkan pentingnya peran masyarakat dalam penanganan karhutla. Laporan yang diterima sejak awal memungkinkan petugas bergerak ketika luasan kebakaran masih dapat dikendalikan.
BPBD Damkar Barito Timur pun mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kemunculan api di tengah kondisi lahan yang kering. Setiap titik api yang terlihat diharapkan segera dilaporkan agar dapat ditangani sedini mungkin. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









