SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengungkap penggunaan zat khusus tambahan dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi mempercepat proses penanganan hingga menghemat waktu dan sumber daya. Namun, pemanfaatannya masih terkendala keterbatasan stok.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan zat tersebut sebelumnya pernah digunakan dalam penanganan kebakaran lahan gambut pada 2023. Saat itu, BPBD Kotim memperoleh bantuan bahan tersebut dari Balai melalui Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Pangkalan Bun.

Menurutnya, BPBD Kotim saat ini telah berupaya kembali mendapatkan bantuan zat pemadam tersebut. Namun, permintaan yang disampaikan belum dapat dipenuhi karena persediaannya juga terbatas.

"Kalau ada zat tambahan untuk pemadaman ini sebenarnya kita bisa hemat 30 sampai 35 persen, baik dari sisi waktu, kemudian sumber daya, bahan bakar tentunya nanti," kata Multazam, Jumat, 28 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, penggunaan zat tersebut dinilai dapat mempercepat pemadaman api aktif. Berdasarkan penjelasan teknis yang pernah diterima, campuran tersebut membantu air melakukan penetrasi lebih cepat ke dalam tanah.

Kondisi tersebut dinilai sangat membantu ketika petugas menangani kebakaran di kawasan gambut. Air yang lebih cepat masuk ke pori-pori tanah dapat membantu menjangkau bagian bawah yang masih menyimpan bara sehingga proses pemadaman menjadi lebih efektif.

"Karena fire aktif itu kalau kita menggunakan zat itu sebenarnya lebih cepat padamnya. Secara teknis pernah kami dapat paparan, filtrasi air ketika menggunakan zat itu lebih cepat masuk ke dalam tanah. Jadi dia bisa masuk ke dalam pori-pori, sehingga kebakaran pada bagian bawah itu bisa lebih cepat padam," jelasnya.

Multazam mengatakan BPBD Kotim saat ini memiliki dua jeriken zat tersebut. Jumlah itu sangat terbatas dan diperkirakan hanya mencukupi sekitar dua kali operasi pemadaman.

Karena persediaan yang minim, BPBD belum berani menggunakan bahan tersebut untuk setiap penanganan karhutla tahun ini.

"Kami cuma punya dua jeriken. Dua jeriken itu paling untuk kebutuhan dua kali operasi. Dalam arti paling dibutuhkan hanya separonya untuk empat kali tangki, empat unit tangki. Selebihnya kami belum berani lagi karena bahan itu tidak tersedia cukup," ujarnya.

Meski demikian, BPBD Kotim tengah mempertimbangkan strategi agar zat tersebut dapat digunakan secara lebih efektif. Salah satunya dengan menyiapkan satu unit kendaraan pemadam tertentu yang dilengkapi bahan tersebut.

Dengan demikian, ketika terjadi kebakaran yang membutuhkan penanganan cepat, khususnya di lokasi yang berdekatan dengan permukiman, unit tersebut dapat langsung dikerahkan.

"Nanti satu tangki kita coba taruh itu di unit itu, bisa dipergunakan pada saat-saat seperti ini. Harusnya kita bisa gunakan," katanya.

Menurut Multazam, ketersediaan zat pemadam tambahan akan sangat membantu apabila digunakan pada titik-titik kebakaran yang membutuhkan kecepatan penanganan, terutama lokasi yang berada dekat dengan permukiman warga.

Pemadaman secara maksimal diperlukan untuk mencegah api kembali meluas dan mengurangi potensi kepanikan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.

"Sebenarnya kalau itu ada, bisa kita manfaatkan maksimal. Jadi setiap kali pemadaman tertentu di lokasi-lokasi mendekati permukiman, di situ kita perlu kecepatan dan totalitas padam," tuturnya.

Ia menegaskan, upaya pemadaman hingga benar-benar tuntas menjadi penting karena pemerintah tidak hanya berkewajiban mengendalikan api, tetapi juga menjaga keselamatan masyarakat di sekitar lokasi.

Multazam menyebut dua jeriken yang saat ini dimiliki BPBD Kotim merupakan sisa bantuan tahun 2025 dari UPR dan belum digunakan. Bahan tersebut merupakan produk asal Jepang yang efektivitasnya sudah teruji dalam penelitian dan pihaknya akan kembali menguji melalui penggunaan di lapangan.

BPBD Kotim berencana melakukan uji coba pada unit yang telah dipersiapkan. Hasil penggunaannya nantinya akan menjadi bahan evaluasi, termasuk berdasarkan pengalaman petugas saat melakukan pemadaman.

"Nanti akan kami beri update bagaimana efektivitasnya. Tentu nanti apa yang dirasakan oleh petugas, itulah menjadi feedback bahwa bahan itu bisa lebih cepat dalam proses penanganan, terutama daerah gambut," ungkapnya.

Selain melakukan uji coba, BPBD Kotim juga terus berkomunikasi dengan Daops Manggala Agni untuk memperoleh tambahan bantuan dari Kementerian Kehutanan.

Multazam mengatakan ketersediaan bahan menjadi faktor penting agar penggunaannya dapat dilakukan secara berkelanjutan.

"Kalau penelitiannya sudah membuktikan, nanti kita lihat ketersediaan. Karena ketersediaan ini juga jangan sampai bahan itu habis, sementara kebutuhan masih ada. Kami masih melakukan komunikasi lagi dengan teman-teman Daops Manggala Agni. Mudah-mudahan dapat bantuan lagi dari Kementerian Kehutanan," pungkasnya.

Menurutnya, secara teknis zat tersebut digunakan untuk membantu menutup pori-pori yang memungkinkan oksigen mencapai bagian bawah lahan terbakar. Dengan berkurangnya oksigen dan penetrasi air yang lebih baik, api yang berada di bawah permukaan, terutama pada lahan gambut, diharapkan dapat lebih cepat dikendalikan. (DEWI PATMALASARI/j)