BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Barat (Kobar) menggelar Salat Istisqa sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan di tengah kondisi kemarau, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah.
Dihadiri Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, Bupati Kobar Nurhidayah, Wakil Bupati Suyanto, serta jajaran pemerintah daerah dan masyarakat di halaman Kantor Bupati Kobar, Jumat, 28 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut digelar di tengah meningkatnya ancaman karhutla di Kalimantan Tengah. Berdasarkan data akumulasi sejak Januari 2026, tercatat sebanyak 22.203 hotspot atau titik panas dan 1.739 fire spot atau titik api.
Sementara, luas lahan yang terbakar mencapai 7.634 hektare, meningkat dibandingkan data sebelumnya yang tercatat seluas 4.920 hektare. Dalam pemantauan harian, juga tercatat sebanyak 858 hotspot dan 53 fire spot, dengan penambahan luas lahan terbakar sekitar 190,96 hektare.
Sejumlah daerah turut mencatat luasan lahan terbakar cukup signifikan, di antaranya Kabupaten Kotawaringin Timur seluas 1.686 hektare, Kabupaten Kotawaringin Barat 508,5 hektare, Kota Palangka Raya 484,2 hektare, dan Kabupaten Barito Timur 14,7 hektare.
Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran mengatakan kekeringan dan karhutla yang terjadi saat ini mengancam kesehatan, lingkungan, serta perekonomian masyarakat. Pemerintah provinsi hingga kabupaten telah melakukan berbagai langkah penanganan bersama pemerintah kabupaten dan kota, TNI, Polri, relawan, serta seluruh elemen masyarakat.
Berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan, mulai dari menyiagakan personel pemadam kebakaran untuk menangani titik api melalui jalur darat dan udara hingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca secara intensif.
Namun demikian, menurutnya, ikhtiar lahiriah tersebut perlu disempurnakan dengan ikhtiar batiniah melalui doa dan permohonan kepada Allah SWT. Salat Istisqa menjadi momentum untuk bermuhasabah, bermunajat, berzikir, bertobat, serta memohon ampun dan pertolongan agar hujan segera turun.
“Kita harus terus berikhtiar dan berusaha. Urusan manusia adalah berusaha secara lahiriah, tetapi cara batiniah pun wajib kita lakukan hari ini,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kobar Nurhidayah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT di tengah kondisi yang dihadapi masyarakat saat ini.
Menurutnya, Kabupaten Kobar dan wilayah Kalteng sedang menghadapi dampak perubahan iklim yang ditandai dengan musim kemarau berkepanjangan. Kondisi tersebut menyebabkan kekeringan di sejumlah titik dan diperparah dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Ini ikhtiar kita kepada Sang Pencipta kita, Allah SWT. Dengan kondisi yang kita rasakan di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kalimantan Tengah saat ini sedang mengalami krisis iklim, dengan kondisi kemarau yang menyebabkan kekeringan di beberapa titik, ditambah dengan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Nurhidayah.
Ia mengatakan, kondisi tersebut turut menimbulkan berbagai dampak bagi kehidupan masyarakat. Mulai dari gangguan kesehatan akibat menurunnya kualitas udara, terganggunya aktivitas pelayanan publik, hingga dampak terhadap berbagai sektor lainnya.
Karena itu, Nurhidayah menekankan pentingnya dukungan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi kondisi tersebut. Ia berharap kebersamaan dan doa yang dipanjatkan dapat menjadi ikhtiar agar hujan segera turun dan membawa keberkahan bagi masyarakat.
“Semoga Kalimantan Tengah, Kabupaten Kotawaringin Barat dan lingkungan sekitarnya, insyaallah, dapat segera diberikan hujan oleh Allah SWT,” harapnya.
Selain Salat Istisqa, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pelayanan sosial bagi masyarakat. Di antaranya pasar murah dan pemeriksaan kesehatan gratis di halaman Kantor Bupati Kobar, pasar murah di Lapangan Tarmili, serta penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat kategori miskin dan sangat miskin.
Tak hanya itu, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Di tengah musim kemarau, masyarakat diminta menggunakan air secara bijak, menjaga kesehatan terutama saat kualitas udara memburuk, serta memperkuat semangat gotong royong untuk membantu warga yang terdampak kekeringan dan karhutla.
Melalui rangkaian ikhtiar lahiriah dan batiniah tersebut, pemerintah berharap hujan segera turun membawa keberkahan, menghidupkan kembali lahan-lahan yang mengering, memperbaiki kondisi lingkungan, serta memberikan kesejukan bagi masyarakat Kalimantan Tengah. (NURITA/H)









