BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Kapuas menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan selama musim kemarau tahun ini.
Lonjakan drastis jumlah titik panas (hotspot) mencerminkan kondisi krisis lingkungan dan potensi bencana yang kian mengancam.
Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas per Jumat, 28 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB, terdeteksi sebanyak 910 titik panas yang tersebar di berbagai wilayah. Angka ini mencatatkan rekor tertinggi sepanjang periode musim kemarau tahun ini.
Dari total 910 titik panas tersebut, rincian tingkat kepercayaannya (confidence level) terdiri atas 45 titik panas tingkat rendah, 801 titik panas tingkat menengah, serta 64 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Sebagian besar titik terdeteksi berada pada kategori menengah yang berpotensi kuat menjadi titik api aktif.
Kepala BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, membenarkan bahwa kondisi pergerakan api dan kekeringan di wilayahnya saat ini sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
"Iya, ini yang tertinggi tercatat selama kemarau ini. Sangat parah, dan kekeringan juga terjadi di beberapa lokasi," kata Pangeran saat dikonfirmasi Borneonews mengenai lonjakan hotspot tersebut.
Pangeran menjelaskan bahwa lonjakan angka hotspot ini terbilang sangat ekstrem jika dibandingkan dengan rerata harian sebelumnya.
Biasanya, pemantauan titik panas harian di Kabupaten Kapuas hanya berada di kisaran angka 300-an titik, namun dalam data terbaru angka tersebut melonjak hingga tiga kali lipat.
Kondisi ini diperparah oleh cuaca terik dan minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir, sehingga vegetasi semak belukar serta lahan gambut di wilayah Kapuas menjadi sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan saat api mulai membesar.
BPBD Kapuas mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun serta segera melaporkan potensi titik api kepada petugas terdekat agar penanganan dini dapat segera dilakukan sebelum api meluas. (SABRIANOOR/R)








