PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Pulang Pisau semakin mengkhawatirkan. Hampir setiap hari terjadi kebakaran di sejumlah wilayah yang berdampak pada munculnya kabut asap dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap gangguan pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih di tengah kondisi kabut asap.

Dokter Spesialis Anak RSUD Pulang Pisau, dr Franky Luhulima, mengatakan kabut asap akibat karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang berbahaya apabila terhirup dan masuk ke dalam tubuh.

“PM2.5 itu partikel debu yang sangat kecil. Bila terhirup dan masuk ke dalam tubuh, dapat membuat anak sakit, seperti batuk, muntah-muntah hingga mencret,” kata dr Franky. Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menurutnya, kondisi kabut asap perlu menjadi perhatian serius orang tua. Anak-anak sebaiknya tidak terlalu banyak melakukan aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara sedang buruk akibat paparan asap karhutla.

Untuk mencegah anak mengalami gangguan kesehatan selama musim kabut asap, orang tua dianjurkan membatasi aktivitas anak di luar rumah.

“Gunakan masker saat berada di luar rumah. Selalu cuci tangan sebelum makan dan setelah bermain,” imbaunya.

Selain itu, anak juga perlu mendapatkan asupan makanan bergizi serta cukup cairan dengan memperbanyak minum air putih.

Langkah-langkah tersebut penting dilakukan untuk menjaga kondisi tubuh anak tetap prima di tengah paparan kabut asap.

Dr Franky juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang muncul selama musim kabut asap. Apabila anak mengalami keluhan yang cukup berat atau kondisi kesehatan memburuk, orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Kabut asap bukan hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. (RETHA/H)