BORNEONEWS, Tamiang Layang – Laporan cepat masyarakat membantu Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur segera menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sumur, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Kebakaran terjadi di lahan kebun masyarakat di Jalan Tani Swadaya, sekitar 700 meter dari Jalan Pertamina. Informasi mengenai munculnya api diterima petugas dari masyarakat dan langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan personel menuju lokasi.
Tim TRC-PB BPBD Damkar Barito Timur bergerak pada pukul 16.08 WIB dari Tamiang Layang dan tiba di lokasi sekitar 20 menit kemudian. Kecepatan respons menjadi faktor penting untuk mencegah kobaran api menjalar lebih luas, mengingat vegetasi di sekitar titik kebakaran cukup mudah terbakar.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan laporan masyarakat sangat membantu petugas mempercepat mobilisasi personel ke lokasi kebakaran.
“Begitu informasi kami terima dari masyarakat, personel langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan penanganan. Respons cepat ini penting karena kondisi vegetasi yang terbakar cukup mudah dilalap api,” katanya.
Dalam operasi tersebut, BPBD Damkar Barito Timur mengerahkan sembilan personel TRC-PB. Penanganan juga mendapat dukungan satu personel dari PT WASCO yang membantu menyediakan pasokan air menggunakan satu unit tangki berkapasitas 5.000 liter.
Petugas mengerahkan sejumlah peralatan pemadaman, di antaranya mesin jinjing atau alkon, nozzle, tujuh selang antar, lima unit handy talky (HT), mobil pickup, serta tandon air berkapasitas 1.000 liter.
Peralatan tersebut digunakan untuk menjangkau titik-titik api di kawasan yang ditumbuhi semak belukar, pepohonan kayu dan pohon karet. Kondisi vegetasi yang cukup rapat membuat petugas harus bekerja lebih cermat untuk memastikan kobaran api tidak menjalar ke bagian lahan lainnya.
Berdasarkan hasil penanganan di lapangan, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar satu hektare. Hingga kegiatan pemadaman dihentikan pada pukul 18.20 WIB, sekitar 0,5 hektare area telah berhasil ditangani, sementara api belum sepenuhnya padam.
Parluhutan menjelaskan, kondisi medan menjadi salah satu tantangan utama bagi petugas dalam melakukan pemadaman. Semak belukar yang rimbun menyulitkan pergerakan sekaligus membuat petugas tidak mudah menjangkau seluruh titik api.
“Kendalanya di lapangan adalah semak belukar yang cukup rimbun. Selain itu, pemadaman yang dilakukan saat malam hari juga membuat jarak pandang terbatas sehingga penanganannya tidak bisa maksimal,” ujarnya.
Keterbatasan akses mobilisasi kendaraan roda empat juga menjadi kendala lainnya. Armada pemadam tidak dapat leluasa mendekati seluruh bagian lahan yang terbakar sehingga petugas harus menyesuaikan strategi pemadaman dengan kondisi medan.
Meski menghadapi berbagai kendala, petugas tetap berupaya mengendalikan api menggunakan peralatan yang tersedia. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan akses menuju titik-titik kebakaran.
“Kami tetap berupaya melakukan penanganan semaksimal mungkin dengan peralatan yang tersedia. Karena api belum benar-benar padam, kondisi di lokasi perlu tetap diperhatikan agar tidak kembali meluas,” tutur Parluhutan.
Karhutla tersebut terjadi pada lahan dengan jenis tanah mineral dan marginal. Kondisi ini menjadi bagian dari situasi lapangan yang harus diperhatikan petugas dalam proses pengendalian kebakaran.
Seluruh personel dipastikan dalam kondisi lengkap setelah kegiatan penanganan selesai dan kemudian kembali ke instansi masing-masing. Meski operasi pemadaman telah dihentikan, kondisi lokasi tetap perlu mendapat perhatian karena api belum sepenuhnya padam.
Peristiwa karhutla di Desa Sumur ini kembali menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Informasi yang disampaikan sejak awal memungkinkan petugas segera bergerak sehingga kobaran api dapat ditangani sebelum berpotensi meluas ke area yang lebih besar. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









