PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran meminta operasi water bombing dioptimalkan untuk mempercepat pemadaman karhutla, terutama pada titik kebakaran yang sulit dijangkau tim darat.

Saat ini lima helikopter disiapkan untuk mendukung pemadaman udara. Namun, hanya tiga unit yang masih aktif beroperasi, sedangkan dua lainnya menjalani perawatan atau menunggu suku cadang.

“Kekuatan yang kita miliki harus dimaksimalkan. Untuk titik-titik yang sulit dijangkau melalui darat, operasi water bombing harus dioptimalkan agar pemadaman bisa dilakukan lebih cepat,” tegas Agustiar di Palangka Raya dikutip pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Arahan tersebut disampaikan saat memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah.

Berdasarkan laporan Kepala Pelaksana BPBPK Kalteng Ahmad Toyib, masih terdapat 15 titik kebakaran yang belum berhasil dipadamkan. Sementara 10 titik yang sebelumnya masuk dalam kondisi terparah telah berhasil ditangani.

Agustiar meminta armada udara yang tersedia diprioritaskan untuk wilayah dengan kondisi kebakaran paling membutuhkan intervensi.

“Kita harus melihat titik mana yang paling membutuhkan intervensi dari udara. Jangan sampai sumber daya yang ada tidak dimanfaatkan secara optimal. Semua harus diarahkan untuk mempercepat pemadaman,” katanya.

Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Palangka Raya, Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur khususnya Sampit, Katingan dan Seruyan.

Selain operasi udara, penanganan karhutla diperkuat 7.208 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni dan relawan. Kekuatan tersebut ditargetkan dapat dioptimalkan hingga mencapai 10.700 personel.

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga masih dilakukan. Tiga periode telah selesai, sedangkan periode keempat berlangsung sejak 26 Agustus hingga 2 September 2026.

Agustiar menegaskan water bombing tidak dapat berjalan sendiri dan harus terintegrasi dengan pemadaman dari darat.

“Setelah api ditekan dari udara, pasukan di lapangan harus memastikan titik tersebut benar-benar aman dan tidak muncul kembali,” jelasnya.

Dalam rapat tersebut dilaporkan terdapat 38.916 titik panas dan 2.090 kejadian karhutla di Kalimantan Tengah.

Untuk luas lahan terbakar, laporan daerah mencatat 60.028,77 hektare, sedangkan data Sipongi mencatat 7.634,46 hektare. Perbedaan tersebut berasal dari dua sumber pendataan yang berbeda.