SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Tangisan dan kepanikan warga pecah di tengah kepungan api di kawasan Lembur Kuring, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu, 29 Agustus 2026. Kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendekati permukiman hingga membuat warga khawatir keselamatan keluarganya.

Di tengah situasi mencekam itu, sejumlah relawan pemadam api swadaya Baamang Tengah bersama tim PSC 119 Dinas Kesehatan Kotim bergerak melakukan evakuasi. Tiga bayi dan satu lansia akhirnya berhasil dikeluarkan dari kawasan yang dipenuhi asap dan dikepung api.

Koordinator Lapangan Relawan Pemadam Api Swadaya Baamang Tengah Sampit, Chandra, menceritakan bagaimana kepanikan warga menjadi tanda bahwa situasi di Lembur Kuring saat itu sudah sangat mengkhawatirkan.

"Kalau yang di Lembur Kuring ini sudah dua hari lebih kejadian kebakarannya. Cuma yang pas ada korban bayi (sesak napas) ini posisi apinya betul-betul mengepung rumah. Sampai mamanya menelepon kami sambil menangis, sudah pasrah juga orang di situ," kata Chandra, Minggu, 30 Agustus 2026.

Saat warga berusaha melakukan pemadaman secara mandiri, mesin yang digunakan tiba-tiba mengalami kerusakan. Upaya tersebut pun tidak berjalan maksimal sebelum relawan tiba di lokasi.

Dalam kondisi panik, tiga orang warga menghubungi relawan secara terpisah untuk meminta pertolongan. Chandra mengatakan, ketiga penelepon tersebut sama-sama menangis ketika meminta bantuan.

Mendapat laporan tersebut, Chandra langsung menginstruksikan personel yang sedang piket untuk menyiapkan tandu. Fokus utama saat itu adalah memastikan bayi dapat segera dievakuasi dari lokasi.

"Saya meminta personel piket menaikkan tandu untuk bayi. Setelah itu saya informasikan ke PSC 119. Ada dua unit yang langsung berangkat, satu dari kami dan satu unit PSC," tuturnya.

Relawan Pemadam Api Swadaya Baamang Tengah sebenarnya telah terlibat dalam penanganan karhutla sejak kebakaran mulai marak. Setiap mendapatkan informasi mengenai kebakaran, mereka berusaha merespons sesuai kemampuan.

Namun, jarak menjadi salah satu tantangan ketika laporan datang dari kawasan yang cukup jauh. Seperti kejadian di Lembur Kuring, Desa Telaga Baru saat itu jaraknya cukup jauh dari pos relawan di Baamang Tengah.

"Posisi kami di Baamang Tengah, sedang lokasi di Telaga Baru. Lumayan waktunya merespons karena jarak," ujarnya.

Kondisi di lokasi semakin membuat situasi terasa mencekam karena warga tidak hanya menghadapi api dan asap, tetapi juga harus menyelamatkan kelompok rentan seperti bayi dan lansia.

"Yang mencekam yang ini di Lembur Kuring karena memang posisinya warga panik, ditambah ada korban bayi dan lansia. Mereka panik," katanya.

Penanganan akhirnya dilakukan secara bersama-sama. Selain relawan, warga sekitar juga ikut membantu.

"Relawan kami kurang lebih ada enam personel. Penanganan di Lembur Kuring kemarin juga dibantu warga. Karena BPBD dan damkar kemungkinan mereka fokus ke titik lainnya karena banyak sekali kejadian kebakaran," jelasnya.

Dalam setiap menjalankan tugas, tim relawan juga berupaya memastikan kondisi anggotanya tetap terjaga. Setiap personel diminta beristirahat apabila mulai merasa tidak enak badan.

Mereka bahkan memiliki anggota yang memiliki pengalaman di Palang Merah Remaja (PMR) dan kemudian ditempatkan untuk membantu penanganan medis awal.

"Kami pastikan cek kondisi. Kalau ada yang tidak enak badan, kami suruh untuk istirahat. Personel sudah ada yang memiliki pengalaman di PMR, jadi kami siagakan sebagai medis pertama," katanya.

Tim juga menyiapkan perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Jika sebelumnya perlengkapan tersebut lebih sering digunakan untuk mendukung penanganan kecelakaan lalu lintas, kini fungsinya diperluas untuk mendukung kebutuhan medis dalam penanganan karhutla.

"Untuk unit kami siapkan P3K dan ada unit tas P3K yang merupakan bagian bidang kami juga setelah bidang pemadaman. Biasanya kami fokus ke laka lantas, untuk sekarang kami fokuskan untuk support medis tim," tuturnya.

Di balik aksi cepat menyelamatkan warga, relawan juga menghadapi keterbatasan operasional. Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan logistik menjadi persoalan yang harus mereka hadapi selama ikut menangani karhutla. Meski demikian, bantuan dari masyarakat menjadi salah satu yang membuat mereka tetap bisa bergerak.

"Kesulitan kita operasional seperti BBM dan logistik. Tapi alhamdulillah sejauh ini kadang ada masyarakat yang memberi," ujarnya.

Dari sisi peralatan, tim hanya mengandalkan pompa portabel sederhana yang merupakan bantuan masyarakat Sampit, khususnya warga Baamang.

Peralatan tersebut masih jauh dari kebutuhan penanganan karhutla dengan skala besar. Salah satu fasilitas yang belum dimiliki adalah kendaraan tangki atau water tank untuk membawa air dalam jumlah besar.

"Peralatan kita hanya pompa portabel sederhana bantuan dari masyarakat Sampit, khususnya Baamang. Tapi kita terkendala belum memiliki unit water tank atau tangki air untuk penanganan karhutla," kata Chandra.

Akibat keterbatasan tersebut, mereka harus mencari sumber air terdekat setiap kali melakukan pemadaman, sedangkan saat musim kemarau sumber air sulit dijangkau.

Chandra mengatakan keberadaan relawan menjadi penting ketika jumlah titik kebakaran meningkat dan kemampuan instansi pemerintah harus terbagi ke berbagai lokasi.

Menurutnya, masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan instansi pemerintah untuk menangani seluruh titik karhutla yang muncul secara bersamaan.

Karena itu, ia berharap perhatian terhadap relawan dapat ditingkatkan, termasuk perlindungan berupa asuransi maupun dukungan lainnya.

Ia mencontohkan perhatian terhadap relawan di daerah lain seperti Banjarmasin yang dinilainya dapat menjadi gambaran dalam memberikan perlindungan kepada relawan.

"Harapannya ada perhatian yang lebih untuk para relawan terkait asuransi ataupun lainnya seperti di Banjarmasin. Tidak hanya dibentuk maupun dibina, tapi harus diperhatikan secara intensif, apalagi saat ada bencana separah ini," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)