BORNEONEWS, Palangka Raya — Kebutuhan remaja terhadap informasi kesehatan reproduksi yang mudah dipahami, terpercaya, dan sesuai dengan persoalan yang mereka hadapi mendorong tim peneliti Universitas Palangka Raya (UPR) mengembangkan RIMBA RAHAYU.
Platform edukasi kesehatan reproduksi remaja tersebut dikembangkan melalui Program BESTARI Saintek yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Ketua Tim RIMBA RAHAYU, Uswatun Hasanah Purnama Sari, mengatakan pengembangan platform tidak hanya dilakukan berdasarkan perspektif peneliti. Remaja dan sekolah dilibatkan secara langsung untuk memastikan materi serta fitur yang disediakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
"Yang ingin kami bangun bukan sekadar media edukasi, tetapi sebuah platform yang memang dekat dengan kebutuhan dan pengalaman remaja. Karena itu, sejak awal mereka kami libatkan dalam proses perancangannya," ujar Uswatun, Minggu, 30 Agustus 2026.
Menurutnya, pendekatan living labs menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan RIMBA RAHAYU. Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti berupaya menggali persoalan, kebutuhan, hingga preferensi remaja sebagai calon pengguna.
Salah satu proses penggalian kebutuhan dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 50 siswa kelas VII dan VIII dari SMPN 1, SMPN 6, SMPN 8, SMPN 9, dan SMPN 14 Palangka Raya.
Dalam proses tersebut, siswa tidak hanya diminta menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, tetapi juga ikut menentukan bentuk pembelajaran dan tampilan platform. Mereka dilibatkan melalui metode brainstorming, card sorting, dot voting, storyboard design, dan mood board.
Hasil diskusi menunjukkan adanya perbedaan perhatian antara siswa putra dan putri. Siswa putra banyak menyoroti kebersihan organ reproduksi, penyakit dan infeksi, makanan bergizi, serta kekerasan seksual.
Sementara siswa putri lebih banyak membicarakan menstruasi, nyeri haid dan PMS, kebersihan organ reproduksi, serta kesehatan mental.
Prioritas tersebut kemudian dipetakan melalui metode dot voting. Pada kelompok putri, kebersihan organ reproduksi menjadi materi yang paling banyak dipilih dengan 19 suara, disusul nyeri haid dan PMS sebanyak 12 suara serta organ reproduksi sebanyak 10 suara.
Pada kelompok putra, kekerasan seksual menjadi topik yang paling banyak mendapat perhatian dengan 15 suara.
Uswatun mengatakan temuan tersebut menjadi masukan penting bagi tim dalam menentukan konten yang akan dikembangkan.
"Masukan dari siswa menunjukkan bahwa kebutuhan mereka cukup beragam. Ini menjadi dasar bagi kami untuk menentukan materi agar edukasi yang diberikan tidak terlalu umum, tetapi benar-benar menjawab persoalan yang mereka anggap penting," katanya.
Selain materi, siswa juga memberikan masukan mengenai bentuk pembelajaran. Mereka menginginkan platform yang tidak monoton dengan menghadirkan video animasi, game edukasi, kuis, fitur mitos dan fakta, buku digital, hingga konsultasi berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Dari sisi tampilan, siswa menginginkan desain yang sederhana namun menarik, mudah digunakan, menggunakan bahasa yang santai dan mudah dipahami, serta dilengkapi ilustrasi kartun remaja.
Masukan tersebut selanjutnya menjadi bahan tim peneliti untuk menyusun kebutuhan pengguna sekaligus menentukan konten, fitur, dan desain website RIMBA RAHAYU.
Uswatun berharap keterlibatan remaja sejak tahap awal dapat membuat platform tersebut tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga menjadi media edukasi yang nyaman digunakan.
"Harapannya RIMBA RAHAYU bisa menjadi alternatif media edukasi kesehatan reproduksi yang informatif, tetapi juga relevan dengan karakter remaja. Kami ingin mereka merasa bahwa platform ini memang dibuat untuk mereka," ujarnya.
Pengembangan RIMBA RAHAYU juga diarahkan untuk mendukung peningkatan literasi kesehatan reproduksi remaja sekaligus menyediakan alternatif media edukasi digital yang dapat dimanfaatkan di lingkungan sekolah di Kota Palangka Raya.
Tim peneliti RIMBA RAHAYU terdiri atas Uswatun Hasanah Purnama Sari, M.Kes., Abi Bakring Balyas, S.Pd., M.Kes., Farah Fauziyah R A, S.Ked., M.Biomed., Nawung Asmoro Girindraswari, M.Pd., Muh. Andis Hidayatullah, M.Pd., Nisa Kartika Komara, S.Si., M.Biomed., dan Nurfitrini Ramadhani, M.Pd. (HERMAWAN DP/j)









