JAKARTA –

BORNEONEWS, Teheran – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding sejumlah pejabat pemerintah Amerika Serikat berupaya memengaruhi pasar energi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Araghchi mengatakan tudingan tersebut didasarkan pada informasi intelijen Iran. Menurutnya, media juga digunakan untuk memengaruhi pergerakan harga energi.

“Intelijen kami menunjukkan adanya upaya besar untuk memanipulasi pasar energi. Sejumlah elemen pemerintah AS menggunakan media yang mudah dipengaruhi untuk mempengaruhi harga demi keuntungan pribadi,” tulis Araghchi melalui platform X, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Namun, Araghchi tidak membeberkan bukti maupun mengidentifikasi pejabat AS yang dimaksud dalam pernyataannya tersebut.

Ia juga menuding sejumlah aktor yang disebut berpihak kepada Israel mendorong berlanjutnya konflik dengan menyampaikan penilaian yang menurutnya terlalu optimistis.

“Aktor-aktor yang berpihak pada Israel juga mendorong perang dengan menyampaikan penilaian yang terlalu optimistis,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Berdasarkan laporan Sputnik/RIA Novosti, Amerika Serikat dan Israel menyerang sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari 2026. Iran kemudian melancarkan serangan balasan.

Teheran dan Washington selanjutnya menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni untuk menghentikan permusuhan, meski ketegangan kembali meningkat setelah kedua pihak dilaporkan kembali saling menyerang.

Saat ini tidak dilaporkan adanya permusuhan aktif secara langsung. Namun, Amerika Serikat tetap menjalankan tekanan ekonomi terhadap Iran sebagai bagian dari kebijakannya terhadap Teheran.

ANTARA