BERITA bahwa Kotawaringin Barat (Kobar) merupakan pusat janda bagi tiga kabupaten, yakni Kobar, Lamandau, dan Sukamara sempat heboh. Sepanjang 2016, ada 830 janda di tiga kabupaten itu dan 80% di antaranya bermukim di Bumi Marunting Batu Aji, Kobar.

Lalu, banyaknya janda di Kobar pun ramai menjadi perbincangan, terutama oleh kaum pria. Dari sekian banyak orang yang membicarakan janda, ada ungkapan prihatin, terkejut, dan penasaran. "Usia berapaan tu yang menjanda?", "Paling banyak di daerah mana?", dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlontar.

Keberadaan janda seakan menjadi magnet bagi kaum pria. Ada daya tarik sendiri meski sebatas dalam pembicaraan. Terbayang, rata-rata ada 59 perempuan yang menjanda setiap bulannya. Alasannya pun beragam. Mulai dari adanya orang ketiga, kekerasan dalam rumah tangga hingga faktor ekonomi.

Panitera Muda Pengadilan Agama kelas ll Pangkalan Bun, Dwi Purwatiningsih menyebut, 90% perempuan memilih menjadi janda karena tak kuat miskin. Mereka tidak mau hidup susah dan memilih sendiri atau berharap dipersunting oleh orang yang lebih baik. Ada pula yang memilih menjadi janda karena tidak tahan diperlakukan kasar oleh pasangan hidupnya.

Butuh keberanian

Jumlah istri yang mengajukan gugatan cerai saat ini juga menarik untuk diungkap. Sebab dahulu, sangat jarang ada perempuan yang berani menggugat cerai suaminya. Dahulu, ada banyak perempuan yang hanya berdiam diri ketika mereka diperlakukan 'tidak adil'. Ada banyak perempuan yang hanya 'pasrah' ketika hampir saban minggu menjadi sasaran bogem mentah suaminya.

Tapi sekarang, jangan pernah menganggap remeh perempuan. Apalagi saat ini, perempuan memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan dan kesempatan di dunia kerja. Begitu pula dengan urusan kekerasan dalam rumah tangga, semua telah diatur oleh undang-undang. Tidak bisa dimungkiri, emansipasi perempuan menjadi salah satu faktor perempuan berani mengambil sikap ketika mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.

Keputusan menggugat cerai suami adalah sebuah keputusan besar. Hanya perempuan kuat yang berani mengambil keputusan itu di tengah kondisi yang mungkin 'membebaninya' selama ini. Di sini saya ingin menggarisbawahi bahwa menjadi janda bukanlah aib, namun pilihan. Sebuah pilihan yang terselip harapan untuk mendapatkan yang terbaik. Meski di balik status janda, ada anggapan-anggapan miring masyarakat.

Semua kembali kepada individu masing-masing, apakah yang dilakukan selama ini sama seperti anggapan masyarakat atau tidak. Jika tidak, abaikan saja cibiran-cibiran miring masyarakat tentang janda. Jika iya, ya apa mau dikata, toh itu fakta. (OKTRIKA NUGRAHENI/N).