SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Olimpiade Bahasa Arab (OBA) ke-9 Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak hanya menjadi ajang kompetisi akademik, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat jaringan guru sekaligus mendorong peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Arab.

"Setiap tahun event ini dilaksanakan dalam rangka menghubungkan guru Bahasa Arab se-Indonesia, menjalin tali silaturahmi, dan menjadi standar yang baik untuk kemajuan guru dan pendidikan Bahasa Arab se-Indonesia," kata Ketua Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (FMGMP) Bahasa Arab Kalteng Fahrizal, Senin, 31 Agustus 2026.

OBA ke-9 Tingkat Provinsi Kalteng digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di MAN Barito Selatan Plus Keterampilan, Buntok. Kegiatan tahunan yang digagas FMGMP Bahasa Arab Nasional tersebut diikuti 81 peserta dari berbagai jenjang pendidikan di Kalteng.

elaksanaan tingkat provinsi menjadi bagian dari rangkaian seleksi berjenjang yang dimulai dari tingkat kabupaten hingga nantinya berlanjut ke tingkat nasional.

Sebanyak 81 peserta dalam OBA ke-9 Kalteng terbagi dalam 11 kategori. Kategori tersebut mencakup jenjang SD, MI, SMP berasrama, SMP non-asrama, MTs berasrama, MTs non-asrama, SMA berasrama, SMA non-asrama, MA berasrama, MA non-asrama, serta kategori guru.

Fahrizal menjelaskan, pemisahan kategori sekolah berasrama dan non-asrama mempertimbangkan perbedaan intensitas pembelajaran Bahasa Arab pada masing-masing lembaga.

"Mayoritas yang berasrama memiliki program yang lebih intensif sehingga tingkat kesulitannya berbeda dengan non-asrama," ujarnya.

Dari sisi materi, OBA mengusung konsep kompetisi akademik yang menyerupai Olimpiade Sains Nasional (OSN). Peserta diuji melalui berbagai soal yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa Arab. "Namun saat ini lebih banyak pada pemahaman teks dan nahwu-shorof," tambahnya.

Fahrizal mengakui masih terdapat tantangan dalam mengembangkan pelaksanaan OBA di Kalteng. Salah satunya berkaitan dengan luas wilayah provinsi yang membuat penyebaran informasi kepada guru Bahasa Arab belum sepenuhnya merata.

Meski perkembangan teknologi informasi semakin memudahkan komunikasi, masih ada sekolah yang belum mengetahui keberadaan FMGMP Bahasa Arab maupun informasi mengenai pelaksanaan OBA.

"Ini juga menjadi evaluasi bagi kami agar bisa meningkatkan ikhtiar untuk bisa menjangkau lebih luas lagi guru Bahasa Arab di Kalteng," katanya.

Untuk memperluas jangkauan tersebut, FMGMP Bahasa Arab Kalteng berencana memperkuat koordinasi dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) dan Dinas Pendidikan, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.

Langkah itu diharapkan dapat mempercepat distribusi informasi sehingga guru Bahasa Arab di seluruh wilayah Kalimantan Tengah memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti berbagai program dan kegiatan yang diselenggarakan FMGMP.

Selain pelaksanaan olimpiade, FMGMP Bahasa Arab Kalteng juga menggelar musyawarah tahunan yang diikuti guru Bahasa Arab dari berbagai wilayah di Kalimantan Tengah.

Dalam musyawarah tersebut disepakati sejumlah agenda untuk memperkuat organisasi dan pengembangan pendidikan Bahasa Arab di Kalteng. Salah satunya penetapan Palangka Raya sebagai lokasi pelaksanaan OBA ke-10 Tingkat Provinsi Kalteng pada tahun depan.

"Kami ingin merayakan satu dekade OBA di ibu kota provinsi supaya lebih berkesan dan tentunya lebih mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota/kabupaten," tuturnya.

Selain itu, musyawarah juga menyepakati pembentukan FMGMP Chapter Kabupaten/Kota di seluruh wilayah Kalteng. Chapter tersebut diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan organisasi di daerah untuk mempercepat penyampaian informasi sekaligus menjadi wadah bagi guru Bahasa Arab untuk membangun komunitas dan meningkatkan kompetensi mengajar.

Keberadaan chapter juga diharapkan dapat membantu kebutuhan administrasi dan data guru, termasuk yang berkaitan dengan SIMPKB, sertifikasi, pemenuhan jam wajib mengajar, hingga kebutuhan tunjangan PPG.

Fahrizal berharap keberadaan FMGMP Bahasa Arab Kalteng semakin memberikan manfaat bagi perkembangan pendidikan Bahasa Arab.

Menurutnya, OBA dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong peningkatan mutu pembelajaran sekaligus memperkuat jejaring guru Bahasa Arab.

"OBA seharusnya menjadi standar yang layak dijadikan acuan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Arab, setara dan rata se-Indonesia," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)