JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mencapai Rp1.235,4 triliun hingga akhir triwulan II 2026.

Nilai tersebut tumbuh 8,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan tetap menjadi porsi terbesar dalam total portofolio kredit BRI.

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan, komposisi kredit UMKM mencapai 75,1 persen dari total kredit perseroan yang sebesar Rp1.645,5 triliun pada akhir Juni 2026.

“Sebagai bank yang memiliki fokus di UMKM dan ekonomi kerakyatan, BRI tetap mempertahankan dominasi UMKM di dalam portofolio kredit BRI,” kata Achmad dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.

Meski UMKM tetap menjadi segmen utama, BRI juga melakukan diversifikasi melalui pertumbuhan kredit konsumer, small, medium, komersial dan korporasi.

Khusus kredit konsumer, BRI mencatat penyaluran sebesar Rp236,9 triliun hingga akhir Juni 2026 atau tumbuh 8,9 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp217,6 triliun.

Pertumbuhan segmen konsumer antara lain ditopang kredit pemilikan rumah (KPR) yang naik 12 persen, BRI Multiguna 9,5 persen dan kredit kendaraan bermotor (KKB) yang tumbuh 404,3 persen secara tahunan.

“BRI melihat ruang pertumbuhan kredit konsumer masih sangat besar. Kami akan terus mengoptimalkan potensi dari BRIGuna, pembiayaan perumahan melalui BRI KPR, BRI KKB, maupun berbagai produk consumer loan lainnya,” ujar Achmad.

Dari sisi kualitas aset, rasio non-performing loan (NPL) BRI membaik menjadi 2,9 persen pada akhir Juni 2026.

Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengatakan, perbaikan tersebut didukung strategi selective growth, penguatan early warning system, perbaikan pipeline, serta optimalisasi fungsi collection dan recovery.

“Dengan demikian, fungsi risk management secara utuh diharapkan semakin efektif dalam mengawal pertumbuhan,” kata Ety.

Perbaikan juga terlihat pada rasio loan at risk (LAR) yang turun dari 9,6 persen pada akhir Desember 2025 menjadi 9,1 persen pada akhir triwulan II 2026.

Sementara cost of credit (CoC) turun dari 3,4 persen pada akhir 2025 menjadi 3,1 persen pada akhir Juni 2026.

Ety menegaskan segmen UMKM tetap menjadi inti bisnis BRI sekaligus bagian dari strategi mendukung inklusi keuangan dan ekonomi kerakyatan.

“Dengan demikian, segmen UMKM tetap menjadi core bisnis kami dan menjadi mandat strategis dalam mendukung inklusi keuangan, tapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan kinerja BRI,” ujarnya.

Secara keseluruhan, BRI membukukan laba bersih Rp31,2 triliun pada akhir triwulan II 2026 atau tumbuh 17,5 persen secara tahunan.

Total kredit tercatat Rp1.645,5 triliun atau tumbuh 16,2 persen, sedangkan dana pihak ketiga mencapai Rp1.580,7 triliun atau meningkat 6,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

ANTARA