PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Yayasan Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi) mengajak para pelaku industri, investor, perbankan, hingga konsumen untuk melihat langsung praktik keberlanjutan yang dijalankan petani sawit swadaya di Kalimantan Tengah.

Ajakan tersebut dikemas melalui kegiatan Tour “Meet & Green: Witnessing How Smallholders Lead Sustainability” yang akan digelar selama tiga hari, 5–7 November 2026 mendatang. Kegiatan ini diselenggarakan Fortasbi Indonesia bersama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).

Head of Secretariat Fortasbi Indonesia, Rukaiyah Rafik, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi berbagai pihak untuk melihat secara langsung bagaimana petani sawit swadaya mengambil bagian dalam mendorong praktik sawit berkelanjutan.

“Selama tiga hari di Kalimantan Tengah, peserta akan melihat lebih dekat bagaimana petani sawit swadaya ikut memimpin perjalanan menuju sawit berkelanjutan,” kata Rukaiyah pada Senin, 31 Agustus 2026.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi kunjungan lapangan. Peserta akan bertemu langsung dengan perwakilan petani swadaya yang telah terlibat dalam RSPO, mengunjungi pabrik pengolahan sawit, serta melihat kawasan konservasi pra-pelepasliaran orangutan di Pulau Salat.

Rukaiyah menyebutkan, rangkaian kunjungan itu diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai potensi, tantangan, sekaligus peluang kolaborasi dalam membangun rantai pasok sawit yang lebih berkelanjutan dan inklusif.

“Ini bukan sekadar kunjungan lapangan. Peserta akan bertemu langsung dengan perwakilan petani swadaya RSPO, mengunjungi pabrik pengolahan sawit, dan mengunjungi areal konservasi pra-pelepasliaran orangutan di Pulau Salat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut terbuka bagi processor atau trader, produsen barang konsumsi, peritel, perbankan, maupun investor yang memiliki ketertarikan untuk mendukung dan berinvestasi dalam inklusi petani sawit swadaya ke dalam rantai pasok sawit berkelanjutan.

Rute kegiatan direncanakan dimulai dari Palangka Raya menuju Desa Pangkoh III dan Pulau Salat, Kalimantan Tengah.

“Perjalanan ini bisa menjadi kesempatan untuk melihat langsung potensi, tantangan, dan peluang kolaborasi di lapangan,” kata Rukaiyah.

Untuk mengikuti kegiatan tersebut, peserta dikenakan biaya US$820 dengan fasilitas tiket pesawat, dua malam penginapan, makan, dan transportasi darat. Kuota peserta terbatas dengan pendaftaran dibuka hingga 30 September 2026.

Rukaiyah berharap kegiatan ini dapat mempertemukan berbagai pihak dalam satu ruang pembelajaran di lapangan, sekaligus memperkuat kolaborasi untuk mendorong petani swadaya semakin terintegrasi dalam rantai pasok sawit berkelanjutan.

“Datang, bertemu langsung dengan para pelaku di lapangan, dan lihat sendiri seperti apa keberlanjutan bekerja dalam kehidupan nyata,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/H)