KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Suara deru napas yang tertahan dan tiupan bertenaga membahana di GOR Panunjung Tarung, Kabupaten Kapuas. Para penyumpit handal dari berbagai penjuru Pulau Kalimantan saling adu ketangkasan dalam ajang bertajuk Kapuas Rhythm of Culture 2026.

Menariknya, seni menyipet yang dahulunya dikenal sebagai keahlian berburu khas suku Dayak, kini bertransformasi menjadi olahraga prestasi yang bergengsi dan makin diminati. Kejutan lain datang dari antusiasme peserta yang berlaga.

"Ada 132 peserta terdiri dari 40 putri dan 92 putra," ungkap panitia penyelenggara, Senin, 31 Agustus 2026.

Kehadiran puluhan penumpit putri ini membuktikan bahwa warisan leluhur tidak lagi didominasi kaum pria, melainkan kian inklusif dan digandrungi generasi muda tanpa sekat gender.

Kegiatan yang digagas oleh Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (PORTINA) Kapuas ini tidak hanya menjadi panggung kompetisi, tetapi juga momentum penting merawat identitas budaya Kalimantan agar tidak tergerus zaman.

Wakil Bupati Kapuas, Dodo, selaku Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kapuas, bersama Kepala Disparbudpora Kapuas, Santoso (mewakili Bupati Kapuas), mengapresiasi tinggi antusiasme seluruh kontestan yang telah memeriahkan helatan tingkat regional tersebut sejak acara dimulai Sabtu lalu. Lewat tiupan sumpit yang presisi, semangat pelestarian budaya Dayak terbukti tetap menyala terang di bumi Kapuas. (SABRIANOOR/H)