BORNEONEWS, Sampit – Komunitas Gowes Gabut Sampit (GGS) menggerakkan aksi sosial di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Komunitas tersebut turun langsung membagikan masker dan air mineral kepada masyarakat yang tetap beraktivitas di tengah kondisi udara yang kurang baik.
"Kami melihat kondisi asap di Sampit semakin tebal. Banyak masyarakat yang tetap harus keluar rumah untuk bekerja dan beraktivitas. Karena itu, kami bersama semua anggota tim GGS berinisiatif membagikan masker dan air mineral, mudah-mudahan bisa sedikit membantu," kata Ketua Tim GGS M Teguh Sobirin, Senin, 31 Agustus 2026.
Kegiatan sosial tersebut dipusatkan di kawasan Lampu Merah Simpang Empat Wengga dan sejumlah titik di sekitar Jalan Cilik Riwut, Sampit pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Masker dibagikan kepada warga dan pengguna jalan yang melintas, sedangkan air mineral diberikan sebagai bentuk perhatian kepada masyarakat yang tetap menjalankan aktivitas di tengah cuaca panas dan kepungan asap.
Teguh mengatakan, aksi tersebut berangkat dari keprihatinan melihat kondisi Kota Sampit yang belakangan diselimuti asap cukup tebal. GGS tidak ingin hanya berdiam diri ketika masyarakat membutuhkan kepedulian.
Menurutnya, aksi tersebut bukan sekadar kegiatan komunitas, tetapi juga menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla dan dampaknya merupakan tanggung jawab bersama.
"Mungkin yang kami berikan tidak seberapa, tetapi kami ingin menunjukkan bahwa di tengah kondisi seperti ini masih ada kepedulian. Semoga apa yang kami lakukan bisa menginspirasi komunitas lain maupun masyarakat untuk saling membantu," ujarnya.
Selain membagikan masker dan air mineral, GGS juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan.
Teguh mengingatkan dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Asap dapat menyebar ke berbagai wilayah dan mengganggu aktivitas serta kenyamanan masyarakat.
"Karhutla bukan hanya soal api yang membakar lahan. Ada asap yang kita hirup bersama. Karena itu, mari kita jaga lingkungan, jangan membuka lahan dengan cara membakar dan mari saling peduli dengan warga yang terdampak," katanya.
Aksi berbagi masker dan air mineral oleh GGS tersebut menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk komunitas yang selama ini dikenal melalui aktivitas bersepeda.
Di tengah kabut asap yang kian pekat, anggota GGS memilih berhenti sejenak dari aktivitas gowes untuk turun ke jalan dan berbagi dengan masyarakat.
Bagi GGS, olahraga tidak hanya menjadi sarana menjaga kesehatan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun solidaritas dan memberikan manfaat bagi sesama.
Teguh berharap kondisi udara di Sampit segera kembali normal sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.
"Nantinya apabila udara sudah kembali normal, kami akan kembali mengajak seluruh masyarakat Kotim untuk menerapkan gaya hidup sehat dengan cara bersepeda," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









