JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Agustus 2026 mencapai 4,96 persen secara year on year (yoy). Angka tersebut menempatkan Kalteng sebagai provinsi dengan inflasi tahunan tertinggi kedua di Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi secara tahunan pada Agustus 2026.

Kalteng berada di bawah Maluku Utara yang mencatat inflasi 5,28 persen. Sementara Aceh tercatat 4,86 persen, Nusa Tenggara Barat 4,03 persen dan Sulawesi Utara 3,99 persen.

“Secara tahunan seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Maluku Utara yaitu sebesar 5,28 persen,” kata Ateng di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.

Secara nasional, inflasi tahunan terutama dipengaruhi tiga kelompok pengeluaran.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 3,86 persen dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 1,13 persen.

Komoditas yang memberikan andil antara lain daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, cabai rawit, daging sapi, sigaret kretek tangan, sigaret putih mesin dan cabai merah.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 9,25 persen dengan andil 0,63 persen. Kenaikan pada kelompok tersebut terutama dipengaruhi emas perhiasan.

Sementara kelompok transportasi mengalami inflasi 4,79 persen dengan andil 0,58 persen. Komoditas pendorongnya antara lain bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor dan mobil.

Berdasarkan komponennya, inflasi inti tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan dengan andil 1,87 persen.

Komoditas yang dominan menyumbang inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, pelumas atau oli mesin serta laptop atau notebook.

Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 3,32 persen dengan andil 0,65 persen. Pendorongnya antara lain bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin dan bahan bakar rumah tangga.

Adapun komponen harga bergejolak atau volatile food mengalami inflasi tahunan 4,06 persen dengan andil 0,67 persen.

Daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi dan cabai merah menjadi sejumlah komoditas yang dominan memberikan andil pada kelompok tersebut.

Sementara inflasi tahunan terendah secara nasional tercatat di Kalimantan Utara sebesar 2,17 persen, disusul Papua Selatan 2,56 persen, Nusa Tenggara Timur 2,59 persen, Sumatera Selatan 2,60 persen dan DKI Jakarta 2,71 persen.

ANTARA