BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan Presiden Prabowo Subianto terus memantau dan mendorong penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk di sejumlah wilayah Kalimantan yang dalam perkembangan terakhir menunjukkan tren penurunan titik panas atau hotspot.
Menurut Raja Juli, perhatian Presiden menjadi salah satu dorongan bagi jajaran pemerintah untuk terus memperkuat upaya pengendalian karhutla.
“Ucapan terima kasih saya kepada Pak Presiden Prabowo Subianto. Beliau seorang pemimpin yang sangat tegas terutama dalam karhutla ini,” ujar Menhut Raja Juli Antoni dalam keterangannya di Jakarta dikutip Rabu, 2 September 2026.
Raja Juli mengatakan Prabowo sebelumnya memimpin rapat terbatas terkait karhutla dan turun langsung melihat penanganan kebakaran di wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Perkembangan titik panas, lanjut dia, terus dipantau agar kebakaran dapat segera ditekan dan tidak kembali meluas.
Menhut juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam upaya pencegahan. Menurutnya, penurunan karhutla tidak hanya bergantung pada operasi pemadaman, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Raja Juli menyebut perkembangan hotspot selama Agustus mulai menunjukkan perbaikan di sejumlah daerah.
Pada 30–31 Agustus 2026, titik panas di Riau tercatat nihil selama dua hari. Sementara di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, jumlah hotspot juga disebut menunjukkan tren penurunan berdasarkan perkembangan terakhir.
“Alhamdulillah, puji Tuhan, bahwa perjuangan satu bulan ini untuk mengontrol karhutla trennya membaik,” ujar Raja Juli.
Meski demikian, Menhut mengingatkan kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah maupun masyarakat lengah.
Pemerintah akan mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di enam provinsi, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, ketika tersedia awan yang memungkinkan dilakukan penyemaian.
OMC diarahkan untuk membantu membasahi lahan serta menjaga tinggi muka air tanah sebagai langkah mengurangi risiko muncul dan meluasnya kebakaran.
Raja Juli menyebut September menjadi periode penting dalam penanganan karhutla sehingga pengawasan dan operasi lapangan harus tetap diperkuat.
“September disebut sebagai puncak El Nino sekaligus periode perjuangan berikutnya dalam penanganan karhutla,” ujarnya.
Pemerintah pun akan terus memantau perkembangan karhutla di Kalimantan maupun Sumatera serta mengoptimalkan langkah pencegahan dan pemadaman selama musim kemarau.
ANTARA









