JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Danantara mendorong transformasi model bisnis PalmCo dari yang selama ini berorientasi pada pasar domestik menjadi pemain yang lebih kuat di pasar internasional.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria mengatakan, salah satu langkah awal yang akan dilakukan adalah meningkatkan ekspor dengan memanfaatkan kelebihan pasokan setelah kewajiban pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO) terpenuhi.

“Yang dulunya semuanya mayoritas adalah pasar di dalam negeri, sekarang kami ingin penetrasi ke ekspor, dari kelebihan DMO yang kita miliki. Kami bisa ekspor, itu tahap satu,” ujar Dony dalam keterangan diterima Rabu, 2 September 2026.

Strategi tersebut dibahas Dony bersama jajaran direksi PalmCo sebagai bagian dari rencana transformasi perusahaan.

Danantara ingin PalmCo tidak hanya mengandalkan penjualan di dalam negeri, tetapi juga memperluas jangkauan bisnis ke pasar ekspor.

Selain memperbesar ekspor, PalmCo juga menyiapkan strategi hilirisasi dengan rencana membangun fasilitas pengolahan minyak atau refinery di luar negeri.

“Kami mau bangun refinery di luar, sehingga kami nanti bisa menjadi refined palm oil,” kata Dony.

Rencana tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah produk sawit yang dipasarkan PalmCo sekaligus memperkuat daya saing perusahaan di industri kelapa sawit global.

Dengan memiliki fasilitas pengolahan di luar negeri, PalmCo diharapkan tidak hanya mengekspor produk mentah, tetapi juga dapat memperluas pemasaran produk olahan bernilai tambah.

Danantara menilai perubahan model bisnis tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat posisi PalmCo agar mampu bersaing sebagai perusahaan sawit berskala global.

Transformasi itu akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari peningkatan penetrasi ekspor hingga pengembangan hilirisasi di pasar internasional.

ANTARA