BORNEONEWS, Jakarta – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat mendorong Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi) menghadirkan kompetisi yang berjenjang dan berkesinambungan sejak usia dini untuk memperkuat pembinaan prestasi.
Wakil Ketua Umum III KONI Pusat Mayjen TNI (Purn) Andrie T.U. Soetarno mengatakan, prestasi tidak bisa dibangun secara instan, tetapi membutuhkan proses pembinaan yang konsisten dari level usia muda.
“Pembinaan prestasi tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dilakukan secara berjenjang dan berkesinambungan dimulai dari usia dini. Saya berharap melalui kejuaraan ini akan lahir Grand Master Catur Indonesia yang mampu menorehkan prestasi di kancah dunia,” kata Andrie dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
Pernyataan itu disampaikan dalam rangka pelaksanaan JAPFA Chess Festival 2026 yang digelar PB Percasi di Wisma Serbaguna, Senayan, Jakarta, pada 1–6 September 2026.
Turnamen tersebut diikuti 523 pecatur dari empat negara dan memperebutkan total hadiah sebesar Rp298,9 juta.
Plt Sekretaris Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Setiyana Djafar mengapresiasi konsistensi Percasi dalam menyelenggarakan kompetisi catur dengan standar internasional.
“Catur bukan hanya olahraga, melainkan juga kegiatan yang melatih kedisiplinan, penentuan strategi, serta konsentrasi. Hal itu selaras dengan langkah pembangunan karakter bangsa,” ujar Setiyana.
JAPFA Chess Festival 2026 mempertandingkan 12 kategori.
Ajang tersebut juga menghadirkan duel internasional, di antaranya pecatur muda Indonesia IM Satria Duta Cahaya melawan pecatur Vietnam IM Dau Khoung Duy.
Pada kategori putri, WIM Laysa Latifa menghadapi WGM Xeniya Balabayeva asal Kazakhstan.
KONI Pusat berharap kompetisi seperti ini dapat menjadi bagian dari jalur pembinaan yang konsisten, sehingga pecatur muda Indonesia memiliki lebih banyak ruang untuk mengasah kemampuan dan bersaing di level internasional.
ANTARA









