BORNEONEWS, Sampit – Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
"Kita berharap betul Sekolah Rakyat ini bisa menjadi solusi terhadap kebutuhan pendidikan masyarakat tidak mampu. Apalagi sekolah ini gratis sepenuhnya. Jangan sampai keadaan ekonomi keluarga membuat seorang anak kehilangan kesempatan untuk sekolah dan meraih masa depannya," kata Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Abdul Hafid, Rabu, 2 September 2026.
Hal tersebut disampaikannya setelah melihat langsung aktivitas siswa Sekolah Rakyat di Sampit. Kunjungan itu memperlihatkan suasana pendidikan yang mulai berkembang di lingkungan sekolah berasrama tersebut.
Sejumlah siswa tampak beraktivitas di kawasan sekolah. Ada yang bermain bersama teman, berolahraga hingga bermain sepak bola. Suasana tersebut menunjukkan para siswa mulai beradaptasi dengan lingkungan pendidikan dan kehidupan asrama.
Abdul Hafid mengatakan, setiap siswa memiliki kondisi dan pengalaman yang berbeda. Sebagian berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, kehilangan orang tua hingga membutuhkan pendampingan dalam meningkatkan kemampuan dasar pendidikan.
Kondisi itu, menurutnya, menjadi alasan penting mengapa Sekolah Rakyat perlu terus diperkuat. Pendidikan yang diberikan tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan pendampingan anak.
Dalam kunjungannya, Abdul Hafid bertemu dengan Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Kotim Nikkon Bhastari, tenaga pendidik serta wali asuh.
Ia melihat proses pendampingan siswa membutuhkan perhatian khusus karena terdapat perbedaan karakter, kemampuan belajar, kondisi keluarga dan pengalaman sosial pada masing-masing anak.
"Saya melihat guru dan wali asuh membina mereka dengan hati. Ini pekerjaan yang tidak ringan. Anak-anak datang dengan karakter, kemampuan dan latar belakang yang berbeda. Mereka harus dirangkul, dibimbing dan diyakinkan bahwa mereka mempunyai masa depan," ujarnya.
Ia memberikan apresiasi kepada guru dan wali asuh yang mendampingi para siswa. Menurutnya, anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar materi pelajaran.
Perhatian, rasa aman, kedisiplinan, kasih sayang serta lingkungan yang mendukung dinilai penting untuk membantu siswa membangun kepercayaan diri.
Sekolah Rakyat Kotim sebelumnya menjalankan kegiatan pendidikan di eks Asrama Haji Kompleks Islamic Center Sampit. Pada tahap rintisan 2025, program tersebut menampung 100 peserta didik tingkat SD dan SMA.
Program tersebut kemudian berkembang dengan menempati kompleks Sekolah Rakyat baru di kawasan Wengga Metropolitan, Sampit. Kompleks pendidikan itu berdiri di atas lahan sekitar 67.930 meter persegi atau hampir 6,8 hektare.
Kawasan tersebut dirancang sebagai fasilitas pendidikan berasrama yang terintegrasi. Pembangunannya kini memasuki tahap penyelesaian.
Berdasarkan peninjauan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim bersama BPKP Kalteng pada pertengahan Agustus 2026, progres pembangunan kompleks Sekolah Rakyat dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen.
Abdul Hafid berharap pembangunan fasilitas fisik juga diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan tenaga pendidik dan wali asuh.
Menurutnya, keberadaan sumber daya manusia yang memadai sangat penting karena sistem pendidikan berasrama membuat proses pendampingan siswa berlangsung sepanjang hari.
"Gedung yang bagus penting, fasilitas yang lengkap juga penting. Tetapi yang tidak kalah penting adalah orang-orang yang setiap hari mendampingi anak-anak ini. Guru dan wali asuh harus cukup karena merekalah yang memahami persoalan anak dan ikut membentuk karakter mereka," tegasnya.
Ketua DPD PAN Kotim tersebut menilai keberhasilan Sekolah Rakyat tidak cukup dilihat dari kondisi bangunan maupun jumlah siswa yang ditampung.
Indikator utamanya adalah perubahan kehidupan peserta didik setelah mendapatkan pendidikan, pembinaan dan kesempatan yang sebelumnya sulit mereka peroleh.
Ia berharap program tersebut dapat melahirkan generasi yang memiliki pendidikan baik, karakter kuat, mandiri dan mampu mengembangkan potensi masing-masing.
"Jangan melihat mereka dari keadaan hari ini. Kalau dibina dengan baik, diberikan pendidikan dan kesempatan yang sama, kita tidak pernah tahu, kelak dari anak-anak ini bisa lahir guru, pengusaha, tenaga profesional bahkan pemimpin," katanya.
Sebagai salah satu program strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Abdul Hafid menilai Sekolah Rakyat perlu terus dievaluasi dan disempurnakan.
Berbagai kebutuhan pada tahap awal, mulai dari tenaga pendidik, wali asuh hingga fasilitas pendukung, harus menjadi perhatian agar pelaksanaan program berjalan optimal.
Menurutnya, pembangunan Sekolah Rakyat pada akhirnya bukan hanya mengenai penyediaan gedung pendidikan. Program tersebut merupakan investasi untuk memutus keterbatasan ekonomi yang berpotensi menghambat masa depan anak.
Aktivitas para siswa di lingkungan sekolah menjadi gambaran bahwa kesempatan pendidikan dapat membuka harapan baru bagi mereka.
"Kita ingin mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka sama berharganya dengan anak-anak lain dan mempunyai hak yang sama untuk bercita-cita. Kemiskinan jangan sampai mematikan harapan anak. Kalau Sekolah Rakyat mampu mengubah kehidupan mereka, maka negara bukan hanya membangun sekolah, tetapi sedang membangun masa depan sebuah generasi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/J)









