BORNEONEWS, Sampit - Distribusi bahan bakar minyak (BBM) hingga wilayah pelosok Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai perlu diperkuat agar masyarakat di kecamatan tidak terus bergantung pada pasokan dari Sampit.
"Kalau kita berbicara Sampit saja, mungkin tidak akan terlalu panjang. Bisa saja APH dari Pak Kapolres, Pak Dandim pasti bisa menertibkannya. Tapi efek dari penertiban tersebut nanti akan sampai ke wilayah pelosok sana," kata Anggota Komisi II DPRD Kotim Andi Lala, Rabu, 2 September 2026.
Andi Lala menyoroti keberadaan Pertashop yang tersebar di jalur dari Sampit menuju sejumlah kecamatan di wilayah utara Kotim.
Menurutnya, fasilitas tersebut seharusnya dapat menjadi bagian dari jaringan distribusi BBM sehingga masyarakat tidak harus datang ke Sampit hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
Ia menyebut beberapa lokasi yang telah memiliki Pertashop, di antaranya Parenggean, SP1, Pelantaran dan Telaga Antang. Namun, sebagian fasilitas tersebut dinilai belum beroperasi secara maksimal.
"Di Parenggean itu ada Pertashop, di SP1 ada, di Pelantaran ada, Telaga Antang ada. Di Cempaga saya kurang paham. Kalau Mentaya Hulu belum ada," ujarnya.
Andi Lala mengatakan, kondisi Pertashop yang tidak aktif perlu ditelusuri lebih lanjut. Salah satu hal yang perlu dievaluasi adalah kemungkinan kendala pasokan BBM ke fasilitas tersebut.
Ia bahkan menemukan adanya Pertashop yang kondisinya tidak terawat karena lama tidak digunakan, ditandai dengan area sekitar yang mulai ditumbuhi rumput dan lumut.
Untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap SPBU di Sampit, Andi Lala mengusulkan agar Pertashop yang masih memungkinkan untuk beroperasi kembali diaktifkan dengan menyediakan BBM nonsubsidi, seperti Pertamax.
Menurutnya, skema tersebut dapat memberikan alternatif bagi masyarakat sekaligus tidak menambah tekanan terhadap kuota BBM bersubsidi di SPBU.
"Kalau seandainya Pertashop itu kita aktifkan semua, enggak usah diisi Pertalite. Isi Pertamax saja. Itu akan sangat membantu dan saya yakin antrean di Sampit ini pasti berkurang," tambahnya.
Ia menilai penjualan Pertamax melalui Pertashop dapat membuat masyarakat memperoleh BBM lebih dekat dengan tempat tinggalnya. Dengan demikian, warga di kecamatan tidak harus mengandalkan SPBU yang berada di pusat Kabupaten Kotim.
Andi Lala juga menyoroti kondisi Pertashop di sejumlah wilayah seperti Cempaga dan Antang Kalang yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, keberadaan Pertashop di daerah tersebut berpotensi membantu masyarakat memperoleh BBM dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan membeli dari pengecer.
"Kalau bisa Pertamina masuk ke sana, ke Pertashop itu, dan Pertamax bisa masuk, harga yang dijual di sana segitu saja. Enggak ada itu istilah rugi Pertamina, saya yakin," ucapnya.
Andi Lala berharap Pertamina bersama Pemkab Kotim melakukan evaluasi terhadap jaringan Pertashop, khususnya yang berada di sepanjang jalur Sampit menuju wilayah utara.
Menurutnya, pemerataan distribusi BBM merupakan bagian penting dalam menyelesaikan persoalan antrean. Penertiban di SPBU tetap diperlukan, tetapi harus dibarengi dengan penyediaan titik distribusi alternatif di wilayah kecamatan. (DEWI PATMALASARI/j)









